Showing posts with label artikel motivasi. Show all posts
Showing posts with label artikel motivasi. Show all posts
2.03.2010
Tipe wirausahawan
1. Menjadi wirausahawan mandiri
Untuk menjadi seorang wirausahawan mandiri, berbagai jenis modal mesti dimiliki. Ada 3 jenis modal utama yang menjadi syarat :
- Sumber daya internal, yang merupakan bagian dari pribadi calon wirausahawan misalnya kepintaran, ketrampilan, kemampuan menganalisa dan menghitung risiko, keberanian atau visi jauh ke depan.
- Sumber daya eksternal, misalnya uang yang cukup untuk membiayai modal usaha dan modal kerja, social network dan jalur demand/supply, dan lain sebagainya.
- Faktor X, misalnya kesempatan dan keberuntungan. Seorang calon usahawan harus menghitung dengan seksama apakah ke-3 sumber daya ini ia miliki sebagai modal. Jika faktor-faktor itu dimilikinya, maka ia akan merasa optimis dan keputusan untuk membuat mimpi itu menjadi tunas-tunas kenyataan sebagai wirausahawan mandiri boleh mulai dipertimbangkan.
2.Mencari mitra dengan “mimpi” serupa
Jika 1 atau 2 jenis sumber daya tidak dimiliki, seorang calon wirausahawan bisa mencari partner/rekanan untuk membuat mimpi-mimpi itu jadi kenyataan. Rekanan yang ideal adalah rekanan yang memiliki sumber daya yang tidak dimilikinya sendiri sehingga ada keseimbangan “modal/sumber daya” di antara mereka. Umumnya kerabat dan teman dekatlah yang dijadikan prospective partner yang utama sebelum mempertimbangkan pihak lainnya, seperti beberapa jenis institusi finansial diantaranya bank.
Pilihan jenis mitra memiliki resiko tersendiri.
Resiko terbesar yang harus dihadapi ketika berpartner dengan teman dekat adalah dipertaruhkannya persahabatan demi bisnis. Tidak sedikit keputusan bisnis mesti dibuat
dengan profesionalisme tinggi dan menyebabkan persahabatan menjadi retak atau bahkan rusak. Jenis mitra bisnis lainnya adalah anggota keluarga, risiko yang dihadapi tidak banyak berbeda dengan teman dekat. Namun, bukan berarti bermitra dengan mereka tidak dapat dilakukan. Satu hal yang penting adalah memperhitungkan dan membicarakan semua risiko secara terbuka sebelum kerjasama bisnis dimulai sehingga jika konflik tidak dapat dihindarkan, maka sudah terbayang bagaimana cara menyelesaikannya sejak dini sebelum merusak bisnis itu sendiri.
Mitra bisnis lain yang lebih netral adalah bank atau institusi keuangan lainnya terutama jika modal menjadi masalah utama. Pinjaman pada bank dinilai lebih aman karena bank bisa membantu kita melihat secara makro apakah bisnis kita itu akan mengalami hambatan. Bank yang baik wajib melakukan inspeksi dan memeriksa studi kelayakan (feasibility study) yang kita ajukan. Penolakan dari bank dengan alasan “tidak feasible” bisa merupakan feedback yang baik, apalagi jika kita bisa mendiskusikan dengan bagian kredit bank mengenai elemen apa saja yang dinilai “tidak feasible”.
Bank juga bisa membantu kita untuk memantau kegiatan usaha setiap tahun dan jika memang ada kesulitan di dalam perusahaan, bank akan mempertimbangkan untuk tidak meneruskan pinjamannya. Ini merupakan “warning” dan kontrol yang bisa menyadarkan kita untuk segera berbenah.
Wirausahawan yang “memaksakan” bank untuk memberi pinjaman tanpa studi kelayakan yang obyektif dan benar akhirnya sering mengalami masalah yang lebih parah. Agunan (jaminan) disita, perusahaan tidak jalan, dan hilanglah harapan untuk membuat mimpi indah menjadi kenyataan. Kejadian seperti ini sudah sangat sering terjadi, dalam skala kecil maupun skala nasional. Pinjaman seringkali melanggar perhitungan normal yang semestinya diterapkan oleh bank sehingga ketika situasi ekonomi tidak mendukung, sendi perekonomian mikro dan makro pun turut terbawa jatuh.
3. Menjual mimpi itu kepada wirausahawan lain (pemilik modal)
Jika teman atau kerabat yang bisa diajak bekerjasama tidak tersedia (entah karena kita lebih menghargai hubungan kekerabatan atau persahabatan atau karena memang mereka tidak dalam posisi untuk membantu) dan tidak ada agunan yang bisa dijadikan jaminan untuk memulai usaha anda, ada cara lain yang lebih drastis, yaitu menjual ide atau mimpi indah itu kepada pemilik modal.
Kesepakatan mengenai bagaimana bentuk kerjasama bisa dilakukan antara si pemilik modal dan penjual ide. Bisa saja pemilik modal yang memodali dan penjual ide yang menjalankan usaha itu, bisa juga penjual ide hanya menjual idenya dan tidak lagi terlibat dalam usaha itu. Jalan ini biasanya diambil sesudah cara lainnya tidak lagi memungkinkan sedangkan ide yang kita miliki memang sangat layak diperhitungkan.
Ketiga cara di atas selayaknya dipikirkan sebelum seseorang mengambil keputusan untuk menjadi wirausahawan. Tanpa pemikiran mendalam, pengalaman pahit akan menjadi makanan kita. Banyak usaha yang akhirnya gulung tikar sebelum berkembang.
Contohnya, pada tahun 1998, penduduk Jakarta tentu masih ingat akan trend “kafe tenda” sebagai reaksi atas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang saat itu banyak terjadi. Tiba-tiba saja banyak mantan karyawan perusahaan beralih profesi menjadi wirausahawan. Bahkan usaha tersebut ramai-ramai diikuti oleh pula oleh para selebritis. Trend ini tidak mampu bertahan lama. Banyak “usaha dadakan” ini terpaksa gulung tikar. Entah kemana para wirausahawan baru kita ini akhirnya menggantungkan nasibnya sekarang.
Referensi: Dari berbagai sumber Read More......
Hidup Itu Harus Dijalani
Kiat Wirausaha Sukyatno Nugroho
"Kiat selalu menggoda. Bagaimana orang bisa sesukses itu? Apa yang mereka lalukan? Banyak wirausaha menjawab seadanya. Sukyatno Nugroho punya tiga: melakoni, pantang menyerah dan kerja keras. Klise tapi terbukti."
Es Teler 77, Mie Tek-tek, dan Pasti Enak adalah waralaba-waralaba nasional yang tergolong sukses. Di balik kesuksesan bisnis itu adalah Yenni Setia Widjaja yang hobi memasak, dan suaminya Sukyatno Nugroho. Suami istri bisnisman ini kini tergolong sebagai pengusaha yang sukses. Merk-merk dagangnya berkibar dimana-mana melalui sistem waralaba atau franchise. Sebelum krisis moneter menerpa jumlah terwaralaba (Franchisee) mencapai 200 cabang untuk Es Teler 77, 20 cabang untuk Mie Tek-Tek. Ide Es Teler 77 Juara Indonesia sendiri, sebenarnya bermula dari keberhasilan mertua Sukyatno, Ny Murniati Widjaja, yang memenangkan Juara I Lomba membuat es teler se- Indonesia pada tahun 1982. Disamping itu suami istri ini juga didukung sepenuhnya oleh Trisno Budiyanto, manajer keuangan Es Teler 77.
Dalam banyak seminar, Sukyatno sering memperkenalkan dirinya sebagai penyandang gelar MBA yang kependekan dari "Manusia Bisnis Asal-asalan". Jalan hidupnya memang awut. Di sekolah peringkatnya adalah nomor 40 dari 50 murid. Ijasahnya hanya sampai SMP. Di SMTA ia hanya tahan 3 bulan di kelas satu. Pengalaman bisnisnya pun termasuk "asal-asalan". Ia pernah menjadi salesman kondom, obat cina, bahan kimia, dan barang-barang teknik. Ia belum pernah diterima sebagai pegawai bulanan. Tetapi ia pernah menjadi pemborong bangunan, reklame, leveransir, percetakan, biro jasa sekaligus tukang catut serabutan. Bangkrutpun pernah dialami sampai habis-habisan. Tepatnya ini terjadi duapuluh tahun yang lalu, pada tahun 1978. Sukyatno terpuruk hutang. Hutangnya dibanding kekayaan yang dipunyai ketika itu adalah 10 : 1. Jadi debt service rationya sudah mencapai 1000% disitulah hobi masak Yenny berperan sebagai penyelamat. Isterinya itu berjualan bakmi di garasi rumahnya.
Pernah si wirausaha ini meneteskan air matanya karena dari hasil jualan bakminya waktu itu tidak mampu untuk membayar sekolah anaknya. Dan dengan bekal turun kelapangan dari bisnis-bisnis sebelumnya, Sukyatno mampu mengembangkan Es Teler 77 dengan cepat dan kini sudah memasuki tahapan stabil. Kini bahkan sudah dilakukan diversifikasi melalui pembukaan Mie Tek-Tek, dan Pasti Enak yang menjual aneka hidangan ikan.
"Lebih dari itu determinasi untuk mewujudkan "mimpi" adalah satu satu kunci sukses Sukyatno dan Yenni. Kesuksesan seorang wirausaha bukan sesuatu yang instan. Ia bermimpi sukses, lalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Ia melihat suatu peluang. Lalu ia mengerahkan sumberdaya orang untuk mengejar puluang. Seorang wirausaha bekerja keras untuk mentranformasi peluang itu menjadi suatu hasil nyata."
Ceritera Sukyatno
Mungkin karena pendidikannya yang berhenti di tengah jalan, Sukyatno tidak mempunyai banyak pilihan karier. Pilihan yang terbuka luas adalah terjun ke lapangan, mengais rejeki apa saja yang mungkin. Langsung terjun, kerja keras, tidak mundur oleh kegagalan, ketiga langkah ini yang mewarnai sepak terjang Sukyatno Nugroho. Dalam suatu seminar tahun lalu yang diselenggarakan oleh Forum KUKKI dan Inti pesan Pariwara, Sukyatno menceriterakan kehidupan wirausahanya, "Hidup saya amat dipengaruhi oleh motto klasik bahkan klise. Namun ternyata manjur untuk sampai sebutan "sukses", terutama dalam berwiraswasta.
Motto-motto itu adalah:
Hidup ini harus dilakoni (dijalani), bukan hanya di khayalkan.
Kegagalan dalam hidup adalah kesuksesan yang tertunda.
Hidup harus diisi dengan kerja keras, dengan menggunakan akal, bukan Sekedar Okol
Dalam falsafah "Hidup ini harus dilakoni, bukan di khayalkan", saya menarik beberapa simpul yang penting. Satu di antaranya yang patut diperhatikan ialah: kecenderungan anak untuk ikut menikmati hasil kekayaan orang tuanya, atau mertuanya, atau saudara dekatnya. Bagi saya, kecenderungan seorang anak ikut menikmati kekayaan pendahulunya, bisa disebut sebagai anak yang memakan khayalan. Atau anak yang melahap angan-angan, karena khayalan atau angan-angan itu sekonyong-konyong sudah ada di hadapannya. Hal itu, bagi saya sangat tidak realistis, dan harus dihindari, karena dengan begitu ia tidak masuk kriteria melakoni hidup.
Bagi saya, memakai hasil kekayaan para pendahulunya (orang tua, mertua, dan sebagainya) sama dengan minum racun. Sebab, bila seorang anak neggak fasilitas itu melebihi kadar, akan over dosis dan mabuk. Kemabukan anak itu bisa berupa kemalasan, ketidakkreatifan, kebodohan. Dan hal tersebut akan berujung pada ketidak majuan. Anak muda menjadi mandul.
Hal demikian saya tanamkan kepada anak-anak saya. Saya selalu mengatakan bahwa saya tak punya apa-apa. Karena itu, sekolahlah rajin-rajin. Dan terampillah dalam bergerak di lapangan. Lalu saya harapkan ia mengikuti semua aktivitas ekstra kurikuler, seperti Pramuka, PMR, PMI, dan sebagainya.
Saya merasa itu adalah pendidikan keterampilan paling awal, yang akan membawa anak ke sukses lapangan. Kini anak-anak saya remaja, dan saya sekolahkan di Australia. Keterampilan yang dibawa dari ekstra kurikulum di Indonesia, ternyata bermanfaat di sana. Ketika di kotanya terjadi banjir, mereka bisa langsung terlibat, membikin bantuan PPPK dan sebagainya. Usaha sukarela ini berlanjut kepada kegiatan yang lain. Ketika musim libur, ia jadi tidak canggung-canggung lagi turun ke lapangan.
Anak saya siap menjadi tukang cuci, atau loper koran, atau tukang lap meja sebuah restoran. Semangat ringan tangan mereka ditolakkan dari perasaan sebagai "orang bawah", sebagai orang biasa. Kalau mereka sejak kecil dibiasakan dengan spirit anak orang kaya, saya rasa mereka akan celaka. Kemauan ringan tangan inilah yang membuat mereka terampil. Dan kemauan untuk ringan tangan itu membawa anak-anak kepada benturan-benturan ilmu baru, ilmu yang dengan serta merta ia dapatkan secara formal. Saya yakin, hasilnya adalah sejumlah sikap kewiraswastaan yang punya prospek hebat. Sebab yang dipegang akhirnya ialah "Ilmu Plus", yakni ilmu keterampilan, feeling dan strategi.
Orang yang biasa di lapangan, biasanya tak takut pada kejatuhan. Karena ia bermula dari bawah sekali. Dan kalau pun jatuh, ia bisa pakai rumus silat: Terjerembab satu kali, bangun dan menendang tujuh kali. Atau mundur selangkah, untuk menerjang maju tujuh langkah. Karena itulah, motto: Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, memperlihatkan kebenarannya. Bekerja dengan merangkak dari bawah, dengan bekerja keras memakai akal-bukan okol sesungguhnya adalah proses yang nikmat dan dapat menjadi sejarah yang bagus buat semuat orang."
Ubah Peluang Menjadi Hasil Nyata
Pengusaha Es Teler 77 ini merupakan salah satu varian dalam panorama wirausaha. Ia melihat peluang, ia mengetahui perilaku pasar, ia bersedia bekerja keras mewujudkan peluang tersebut menjadi suatu hasil nyata yang menguntungkan. Produk yang dijualnya sebenarnya merupakan hal-hal yang juga sudah dijual oleh para pengusaha lainnya. Es Teler, Mie Tek-Tek, aneka hidangan ikan, adalah makanan-makanan yang sebenarnya biasa. Yang tidak biasa adalah cara wirausaha ini dalam melakukan differensiasi terhadap produk yang dijualnya. Ia memberikan merk dagang pada produknya, dan berkat ketekunan dan kerja keras, merk dagang itu lalu mempunyai nilai jual (brand equity) yang memberikan persepsi produk makanan yang higienis dan berkelas. Es Teler 77 diterima di banyak pasar. Namun ada juga yang menolak, semisal di Aceh karena nama tersebut memberikan konotasi kepada tindak mabuk-mabukan yang diharamkan oleh ajaran agama.
"Lebih dari itu determinasi untuk mewujudkan "mimpi" adalah satu satu kunci sukses Sukyatno dan Yenni. Kesuksesan seorang wirausaha bukan sesuatu yang instan. Ia bermimpi sukses, lalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Ia melihat suatu peluang. Lalu ia mengerahkan sumberdaya orang untuk mengejar puluang. Seorang wirausaha bekerja keras untuk mentranformasi peluang itu menjadi suatu hasil nyata."Referensi: Dari berbagai sumber Read More......
1.21.2010
Membangun Kepercayaan
Sebelum Nabi Muhammad saw dikukuhkan menjadi seorang Rasul beliau sudah sangat populer di tengah masyarakat kota Mekkah dengan gelar al-Amin yaitu orang yang sangat terpercaya (amanah/kredibel). Gelar ini baik sebelum maupun sesudahnya tidak pernah ada lagi.
Sungguh dahsyat pengaruh suatu kepercayaan dan luar biasa pentingnya untuk kesuksesan karir kehidupan di dunia maupun di akhirat, jah melampaui modal harta benda, kedudukan, jabatan, atau ilmu sekalipun. Ketika kepercayaan sudah sirna di hati orang lain, sulit sekali ntuk tumbuh, walaupun dengan berjuta janji atau membayar dengan harta sebanyak apapun, jikalau kepercayaan di hati orang sudah hilang maka perasaan yang muncul selalu mencurigai dan rasa tidak percaya diri akan selalu membayang dan membekas
Berikut ini sekelumit uraian yang insya Allah akan menumbuhkan dan memperkuat kepercayaan seseorang.
Read More......
Bermimpilah dan Wujudkan!
Bisnis adalah usaha mulia. Disamping menguntungkan, kita bisa membuka lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan. Tapi semua itu harus dimulai, bukan hanya sekedar ide semata.
Pernahkah kita bercita-cita menjadi direktur di perusahaan kita sendiri? Lalu mengapa kita terjebak dalam rutinitas pegawai kantoran, kuliah atau rumah tangga tanpa sedikitpun terpikir akan membuka usaha yang menguntungkan. Padahal kesempatan anda untuk memulai bisnis terbuka lebar setiap saat.
Mulailah sekarang
Seringkali istilah pengusaha belum dianggap sebagai pekerjaan. Bahkan, masyarakat kita banyak yang lebih menghargai pegawai kantoran yang nampak bekerja dari pagi hingga petang. Tapi pengusaha, apalagi kecil, masih dipandang sebelah mata. Padahal lewat bisnislah, orang bisa memperoleh keuntungan berkali lipat dibandingkan pegawai kantoran. Dan itu bisa dimulai dari rumah.
Bisnis rumahan bila dikelola secara profesional akan menjadi besar. Banyak bisnis berhasil yang dimulai dari bisnis rumahan seperti pemilik Wardah, kosmetika suci dan halal, Nurhayati Subakat misalnya, awalnya harus menjajakan produk shamponya dari satu salon ke salon lain. Kini produknya tersebar di seluruh Indonesia dan ratusan orang bekerja padanya.
Peluang itu ada dimana-mana. Cobalah buka mata, telinga dan intuisi anda dengan baik. Anda akan menemukan banyak sekali ide usaha. Bila anda hobi memasak, merancang sepatu, mengumpulkan barang bekas, mengumpulkan komik, bisa jadi ide bisnis untuk anda. Asalkan kita kreatif dan membuat sesuatu yang disukai pasar maka peluang untuk berhasil lebih terbuka. Anda bisa mengikuti jejak Nila Sari yang sukses dalam bisnis membuat kue, atau pendisain sepatu ekslusif seperti Linda Chandra atau bisa juga ide kreatif anak muda yang dituangkan lewat tulisan seperti pada Kaos Dagadu Yogya.
Andapun bisa menciptakan peluang itu. Misalnya saja peluang untuk membuat tempat penitipan anak, atau bisnis barang bekas lewat internet. Menciptakan peluang yang sama sekali baru juga dicetuskan oleh Jeff Bezos yang berinovasi menjual buku lewat internet dengan amazon.com-nya yang akhirnya sukses luar biasa dan menjadikannya milyuner di usia muda.
Tak salah juga jika anda mengekor bisnis yang sudah dibuka oleh orang lain. Misalnya bisnis ayam goreng yang sudah menyebar di kota besar ternyata menimbulkan ide menjual ayam goreng ala Mc Donald yang harganya lebih terjangkau masyarakat. Atau juga bisnis busana muslimah yang mulai menjamur. Tentu kita harus lihat apa kebutuhan pasar terhadap busana muslimah. Kekosongan yang tidak tersedia, dapat kita isi.
Lalu, apa yang kita lakukan jika ide sudah tercetus? Lakukan saja. Maksudnya di sini bukan tanpa perhitungan. Hanya saja jika terlalu ketat menghitung-hitung resiko yang muncul kemudian adalah rasa ragu-ragu. Ide cemerlang kita bisa segera ditangkap orang lain.
Berawal dari mimpi
Bermimpilah besar dan terus bermimpi besar, kata pepatah. Karena semua yang kita nikmati sekarang berasal dari mimpi yang dianggap tidak mungkin. Dulu Sosrodjojo ditertawakan orang karena dinilai bermimpi menjual teh dalam kemasan botol. Atau juga Tirto Utomo yang ditertawakan karena idenya menjual air minum kemasan. Ide itu kini terwujud sebab siapa yang tak kenal The Botol Sosro dan Aqua. Kini merek itu telah jadi trendsetter dari produk teh dan minuman mineral sejenis.
Di Amerika ada Bill Gates yang meninggalkan bangku kuliah bisnisnya di Harvard, sebuah sekolah elit di Amerika, dan serius menekuni microsoftnya. Dia bermimpi kelak di seluruh dunia akan ada Komputer Pribadi (PC) di setiap rumah. Impian itu menjadi slogan yang dikenal luas dengan “Computer on every desk and in every home”. Mimpinya jadi kenyataan.
Jika kita telah berani bermimpi, sebenarnya mimpi itu bisa kita wujudkan dengan kerja keras dan kesungguhan. Jangan takut bermimpi, walaupun anda membuka usaha skala kecil saja di rumah.
Berani adalah modal
Jika anda sudah memiliki mimpi dan ide yang baik, kenapa tidak mulai sekarang? Beranikan diri untuk mencoba. Berani adalah modal seorang enterpreuner. Mencoba ide atau gagasan secara langsung adalah tantangan yang menyenangkan. Banyak ilmu didapat dibanding sekedar membaca teorinya saja.
Andaikan modal adalah alasan terbesar anda maka ketahuilah banyak pengusaha sukses yang memulai usaha dari nol. Ada yang berjualan batik titipan orang, keuntungannya dijadikan modal usaha seperti Dyah Suminar, pengusaha wanita asal Yogya. Ada pula Purdi Chandra, pemilik Bimbingan Belajar Primagama, yang memulai usaha hanya dengan 300 ribu hasil melego sepeda motornya. Lihat pula Abdullah Gymnastiar yang merintis divisi usaha pesantren Daarut Tauhid dengan menggelar dagangan yang modalnya berasal dari seorang janda. Jadi modal bukanlah permasalahan paling besar yang dihadapi oleh pebisnis pemula.
Berani gagal
Menurut Tyas Soekarsono, dosen sekaligus pengusaha, keseriusan dan kesungguhan dalam berbisnis juga menjadi faktor yang menentukan keberhasilan bisnis yang anda tekuni. Hal ini berlaku pula dengan bisnis yang dimulai dari rumah. “Kerja keras perlu tapi jangan sampai tidak efektif dan tidak efisien,” ujarnya mengingatkan. Work hard and work smart adalah motto para enterpreuner. Jangan malas dan merasa cepat puas atas hasil yang didapat.
Hal penting lainnya adalah daya inovasi yang tinggi terhadap layanan produk dan jasa. Karena itu seorang pebisnis harus pandai mengikuti perkembangan pasar dan melihat perilaku pesaing. Pebisnis harus menyadari bahwa produk yang ditawarkan banyak, tapi apa yang membuat si calon konsumen itu beralih menggunakan produk dan jasanya. Di sini pebisnis harus cerdik melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Safir Senduk juga menegaskan sikap tidak boleh cepat mengharapkan hasil bagi para pebisnis pemula. Kesabaran itu diperlukan untuk beradaptasi dengan usaha yang mulai dirintis. Kadang kegagalan itu perlu dirasakan oleh pebisnis karena lewat kegagalanlah pengusaha akan mencoba menghindari kesalahan yang sama.
Jika kita sudah berani mencoba maka kita harus berani gagal atau berani sukses. Intinya, seberapa keras kita berusaha itulah harga yang akan kita dapatkan. Tidak ada kamus gagal bagi yang berjiwa enterpreuner. Yang ada adalah seberapa cepat anda bangkit dari kegagalan itu. Bagaimana, siap berbisnis?
Referensi: dari berbagai sumber Read More......
Subscribe to:
Posts (Atom)




