2.03.2010

Manajemen Sari Bundo


Kebersamaan antara profesi, hubungan baik pimpinan dan karyawan akan membuat bisnis kita tetap bertahan.


Untuk kesekian kalinya, saya mencoba menikmati sajian masakan di Rumah Makan Padang Sari Bundo di Jalan Juanda, Jakarta. Rumah makan yang ngetop ini menjadi favorit banyak kalangan. Mulai dari mahasiswa, wartawan, eksekutif sampai menteri. Bahkan, presiden pernah merasakan nikmatnya masakan Ranah Minang ini. Padahal
harganya cukup mahal dibanding dengan rumah makan sejenis lainnya. Namun, siapa tidak kenal dengan Rumah Makan Padang Sari Bundo ini, rumah makan padang terlaris di Jakarta, yang memiliki delapan puluh karyawan dan beromzet dua puluh lima juta per harinya itu.

Dibanding rumah makan yang baru berdiri, biasanya karyawannya banyak yang muda-muda, Sari Bundo yang didirikan sejak tahun 1968 ini, ternyata sebagian besar usia karyawannya rata-rata sudah cukup umur, bahkan ada yang ikut bekerja sejak rumah makan ini berdiri. Maka tak mengherankan, banyak di antara mereka yang sudah punya cucu.

Saya melihat loyalitas mereka bekerja di Sari Bundo, karena paling tidak manajemen bagi hasil yang diterapkan. Dengan sistem seperti itu - seperti kebanyakan restoran padang - manajemen di sini terbuka atau transparan. Faktor kekeluargaan demikian kuat. Dan, kebersamaan antara sesama profesi, hubungan baik pimpinan dan karyawan, juga ikut menjadikan rumah makan ini tetap bertahan.

Dalam operasional rumah makan ini, pemasukan dan pengeluaran setiap harinya semua karyawan ikut mengetahui.sehingga, ada rasa memiliki, dan akhirnya mereka pun optimal dalam bekerja. Bila laba perusahaan sedikit, mereka semakin tertantang untuk kerja keras, dengan harapan bisa meraih untung lebih banyak lagi.

Mereka percaya bahwa antusiasme bekerja seperti "mukjizat" di dalam setiap menggeluti bisnis, termasuk bisnis rumah makan padang. Sehingga, wajar kalau karyawan di sini sangat yakin bahwa bila usaha meningkat, maka kesejahteraan mereka pun ikut meningkat pula.

"Soal upah bagi mereka prinsipnya adalah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. sehingga, mulai pimpinan sampai karyawan memiliki rasa tanggung jawab untuk tetap mempertahankan, bahkan meningkatkan "brand image" dari Sari Bundo."


Dan, anehnya, bila ada saudara-saudara pemilik rumah makan Sari Bundo ini, ingin membuka cabang dengan memakai merek Sari Bundo, tidak menjadi masalah. Boleh-boleh saja. Agaknya, manajemen Sari Bundo, Jalan Juanda Jakarta ini, masih percaya, bahwa membantu orang lain untuk berhasil itu perlu. Barangkali, hal itu membuat manajemen sari Bundo Jalan Juanda Jakarta lebih tertantang lagi untuk semakin maju di dalam menggeluti bisnisnya ini, agar tidak tersaingi dengan Sari Bundo lainnya.

Diperbolehkannya, saudaranya membuka cabang di Jakarta atau pun di daerah lain, itu jadi bukti bahwa manajemen sari Bundo, tidak menerapkan sistem franchise atau waralaba. Bahkan, pada mereka pun tidak dipungut biaya sesen pun. Hanya sebelumnya mereka harus ijin. Meski demikian, yang terbesar dan teramai didatangi tamu tetap sari Bundo Jalan Juanda Jakarta itu.

Saya mencatat, setidaknya ada empat hal pokok mengapa dia tetap bisa bertahan sampai sekarang meski di saat krisis ekonomi sekalipun, selain penerapan menejemen terbuka tadi, juga karena: pertama, rasa masakan. setiap menu yang ada memang lezat rasanya. Bumbunya sangat terasa. Ikan masih fresh, terasa enak saat dimakan.


Kedua, rasa layanan. Layanannya memang serba cepat. Dengan pengunjung yang banyak tanpa diimbangi dengan layanan cepat, tentu akan mengecewakan pengunjung. Hanya dalam waktu satu menit, tamu bisa langsung menikmati berbagai menu yang terhidang disini. Sari Bundo benar-benar memberikan service bagi para pelanggan atau orang yang dilayani, sehingga mereka merasa seperti "raja" yang harus dihormati. Sari Bundo lakukan ini semua karena, mereka sangat mengerti, bahwa pelanggan adalah orang-orang yang menjadi sumber pendapatan, yang menjaga kelangsungan usaha atau bisnisnya.

Ketiga, lokasinya yang strategis. Manajemen Sari Bundo menyadari, bahwa lokasi rumah makan yang strategis juga akan lebih mendekatkan dengan konsumen. Meski, bangunannya tidak terkesan mewah dan besar, namun penggemar masakan padang tidak terlalu sulit mencarinya, karena lokasinya memang sangat strategis, di Jalan Juanda Jakarta. Apalagi tamu dilayani dengan ramah.

Keempat, nama Sari Bundo yang terkenal itu. Tamu yang menikmati sajian masakan padang di rumah makan terkenal, seperti Sari Bundo, membuat para tamu merasa mantap. Artinya, sebelum mereka ke Sari Bundo, seolah belum makan masakan padang.

Kalau kesemua faktor tersebut tetap dipertahankan oleh manajemen Rumah Makan Padang Sari Bundo, maka pengunjung akan tetap ramai. Omzet akan meningkat, apalagi manajemen Sari Bundo tahu persis, bahwa bisnis ini didirikan untuk sukses menjual produknya. Itu akan jauh lebih mudah kalau citra yang dipancarkan selama ini tetap dipertahakan, bahkan kalau mungkin ditingkatkan.

Hanya masalahnya, mampu tidak Sari Bundo mempertahankan kualitas produknya, pelayanannya, demi kestabilan usahanya. Itu juga penting. Namun, saya yakin, manajemen Sari Bundo paham sekali akan hal itu. Sebab Sari Bundo sebagai rumah makan yang sukses akan terus menerus bertanya, "Bagaimana saya bisa paling baik melayani keinginan. kebutuhan, dan keperluan pelanggan saya?" Yah, begitulah Manajemen Sari Bundo.

oleh: Purdi E. chandra

Read More......

Manajemen Padang


"Saya kira, manajemen model "padang" layak juga diterapkan di sektor jasa maupun produksi lainnya"


Ada sebuah manajemen yang menarik di Indonesia, setidaknya itu menurut saya, yaitu manajemen restoran padang. Mengapa demikian? Itu karena model manajemen ini menerapkan transparansi dalam keuangan dan pembagian

keuntungannya lewat sistem bagi hasil.
Dampak dari model manajemen ini, memang tidak hanya pada faktor manajerial semata, tetapi juga berdampak pada faktor pelayanan. Dimana, pelayanan yang serba cepat menjadikan restoran padang dikenal. Kita pun juga bebas memilih menu. Menu pun bervariasi, begitu juga minumannya. "Menu Nano-Nano" begitulah, banyak orang yang menyebut buat aneka menu yang dihidangkan dan pasti dijamin halal.

Selain itu, kelebihan restoran padang adalah selain pelayanan cepat, juga lebih terkesan fleksibel. Artinya, hidangan yang kita pesan itu bisa saja dimakan di restoran tersebut, tapi kita bisa juga meminta karyawan restoran padang untuk membungkusnya dan kita santap di rumah. Dan satu lagi, masakan padang punya rasa yang khas, dan memenuhi selera hampir semua masyarakat dari berbagai negara. Selain itu, faktor kebersihan ruangan juga selalu mendapat prioritas.

Dalam manajemen ini, memang ada pemilik modal, dan ada pula tim manajemennya, dimana ada manajer dan karyawan. Pada karyawan sendiri ada yang bagian dapur induk (koki), book keeper (pembukuan), pantry (buat minuman), palung (pembawa makanan), teller (pembayar suplier), kasir, waiter dan waitress. Saya juga melihat, selain transparan, model manajemen bagi hasil itu telah menjadikan restoran padang punya ciri khas sendiri.

Dan, yang menarik lainnya adalah hubungan antara pemilik modal dengan manajemen lebih sebagai mitra. Karena apa? Mereka tidak mendapatkan gaji, namun mereka mendapatkan bagian dari keuntungan bersih restoran tersebut. Jadi, dalam memberikan keuntungan itu, memang ada pembagian untuk penanam modal sendiri dan ada pula bagian keuntungan untuk manajemennya atau karyawannya. Itu biasanya dibagikan setelah keuntungan dikurangi 2,5% untuk zakat.

"Sedang pendapatan karyawan adalah dengan sistem poin. Jadi, setiap karyawan punya poin atau nilai. Dan, biasanya perhitungannya dilakukan setiap 100 hari sekali. Nilai tertinggi ada pada karyawan yang bekerja di dapur induk (koki)."


Mengapa demikian? Karena, pada bagian inilah yang mampu memberikan nilai rasa menu makanan maupun minuman yang dihidangkan.

Saya kira, manajemen semacam ini, akan membuat mereka yang bekerja di restoran padang selalu punya semangat tinggi. Dengan semakin tinggi semangat mereka bekerja, menjadikan hasil yang diterima banyak. Kalau malas, hasilnya pun sedikit. Selain itu, sistem keuangannya yang selalu transparan menjadikan setiap karyawan level apa pun tahu, berapa omset yang diraih perusahaan dalam setiap harinya.

Sehingga, hal itu menjadikan karyawan akan lebih termotivasi untuk maju. Di samping itu, manajemen padang juga mendidik karyawan lebih kompak bekerja. Sebab, tanpa ada kekompakan mereka bekerja, hasil yang diraih berkurang. Bahkan, bukan tak mungkin hal itu menimbulkan dampak pada pelayanan maupun rasa.

Oleh karena itu, saya kira manajemen padang ini bisa sebagai alternatif, dan cukup bagus untuk kita terapkan pada sektor jasa maupun produksi lainnya. Dan, satu hal lagi yang menarik adalah, karyawan restoran padang dengan manajemen seperti itu, tidak membuat setiap karyawan menanyakan kapan SK (surat keputusan) pengangkatan kerja itu dibagikan. Mereka juga tidak akan menanyakan kapan naik gaji. Sebaliknya, justru mereka akan berupaya, bagaimana harga poinya bisa selalu naik. Karena, harga poin inilah yang akan menentukan jumlah penghasilan setiap bulan.

Jadi yang menentukan penghasilan adalah dirinya sendiri. Anda berani mencoba?


Referensi: Dari berbagai sumber

Read More......

Tipe wirausahawan


1. Menjadi wirausahawan mandiri
Untuk menjadi seorang wirausahawan mandiri, berbagai jenis modal mesti dimiliki. Ada 3 jenis modal utama yang menjadi syarat :
- Sumber daya internal, yang merupakan bagian dari pribadi calon wirausahawan misalnya kepintaran, ketrampilan, kemampuan menganalisa dan menghitung risiko, keberanian atau visi jauh ke depan.
- Sumber daya eksternal, misalnya uang yang cukup untuk membiayai modal usaha dan modal kerja, social network dan jalur demand/supply, dan lain sebagainya.
- Faktor X, misalnya kesempatan dan keberuntungan. Seorang calon usahawan harus menghitung dengan seksama apakah ke-3 sumber daya ini ia miliki sebagai modal. Jika faktor-faktor itu dimilikinya, maka ia akan merasa optimis dan keputusan untuk membuat mimpi itu menjadi tunas-tunas kenyataan sebagai wirausahawan mandiri boleh mulai dipertimbangkan.

2.Mencari mitra dengan “mimpi” serupa

Jika 1 atau 2 jenis sumber daya tidak dimiliki, seorang calon wirausahawan bisa mencari partner/rekanan untuk membuat mimpi-mimpi itu jadi kenyataan. Rekanan yang ideal adalah rekanan yang memiliki sumber daya yang tidak dimilikinya sendiri sehingga ada keseimbangan “modal/sumber daya” di antara mereka. Umumnya kerabat dan teman dekatlah yang dijadikan prospective partner yang utama sebelum mempertimbangkan pihak lainnya, seperti beberapa jenis institusi finansial diantaranya bank.
Pilihan jenis mitra memiliki resiko tersendiri.

Resiko terbesar yang harus dihadapi ketika berpartner dengan teman dekat adalah dipertaruhkannya persahabatan demi bisnis. Tidak sedikit keputusan bisnis mesti dibuat
dengan profesionalisme tinggi dan menyebabkan persahabatan menjadi retak atau bahkan rusak. Jenis mitra bisnis lainnya adalah anggota keluarga, risiko yang dihadapi tidak banyak berbeda dengan teman dekat. Namun, bukan berarti bermitra dengan mereka tidak dapat dilakukan. Satu hal yang penting adalah memperhitungkan dan membicarakan semua risiko secara terbuka sebelum kerjasama bisnis dimulai sehingga jika konflik tidak dapat dihindarkan, maka sudah terbayang bagaimana cara menyelesaikannya sejak dini sebelum merusak bisnis itu sendiri.

Mitra bisnis lain yang lebih netral adalah bank atau institusi keuangan lainnya terutama jika modal menjadi masalah utama. Pinjaman pada bank dinilai lebih aman karena bank bisa membantu kita melihat secara makro apakah bisnis kita itu akan mengalami hambatan. Bank yang baik wajib melakukan inspeksi dan memeriksa studi kelayakan (feasibility study) yang kita ajukan. Penolakan dari bank dengan alasan “tidak feasible” bisa merupakan feedback yang baik, apalagi jika kita bisa mendiskusikan dengan bagian kredit bank mengenai elemen apa saja yang dinilai “tidak feasible”.

Bank juga bisa membantu kita untuk memantau kegiatan usaha setiap tahun dan jika memang ada kesulitan di dalam perusahaan, bank akan mempertimbangkan untuk tidak meneruskan pinjamannya. Ini merupakan “warning” dan kontrol yang bisa menyadarkan kita untuk segera berbenah.

Wirausahawan yang “memaksakan” bank untuk memberi pinjaman tanpa studi kelayakan yang obyektif dan benar akhirnya sering mengalami masalah yang lebih parah. Agunan (jaminan) disita, perusahaan tidak jalan, dan hilanglah harapan untuk membuat mimpi indah menjadi kenyataan. Kejadian seperti ini sudah sangat sering terjadi, dalam skala kecil maupun skala nasional. Pinjaman seringkali melanggar perhitungan normal yang semestinya diterapkan oleh bank sehingga ketika situasi ekonomi tidak mendukung, sendi perekonomian mikro dan makro pun turut terbawa jatuh.

3. Menjual mimpi itu kepada wirausahawan lain (pemilik modal)
Jika teman atau kerabat yang bisa diajak bekerjasama tidak tersedia (entah karena kita lebih menghargai hubungan kekerabatan atau persahabatan atau karena memang mereka tidak dalam posisi untuk membantu) dan tidak ada agunan yang bisa dijadikan jaminan untuk memulai usaha anda, ada cara lain yang lebih drastis, yaitu menjual ide atau mimpi indah itu kepada pemilik modal.

Kesepakatan mengenai bagaimana bentuk kerjasama bisa dilakukan antara si pemilik modal dan penjual ide. Bisa saja pemilik modal yang memodali dan penjual ide yang menjalankan usaha itu, bisa juga penjual ide hanya menjual idenya dan tidak lagi terlibat dalam usaha itu. Jalan ini biasanya diambil sesudah cara lainnya tidak lagi memungkinkan sedangkan ide yang kita miliki memang sangat layak diperhitungkan.

Ketiga cara di atas selayaknya dipikirkan sebelum seseorang mengambil keputusan untuk menjadi wirausahawan. Tanpa pemikiran mendalam, pengalaman pahit akan menjadi makanan kita. Banyak usaha yang akhirnya gulung tikar sebelum berkembang.

Contohnya, pada tahun 1998, penduduk Jakarta tentu masih ingat akan trend “kafe tenda” sebagai reaksi atas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang saat itu banyak terjadi. Tiba-tiba saja banyak mantan karyawan perusahaan beralih profesi menjadi wirausahawan. Bahkan usaha tersebut ramai-ramai diikuti oleh pula oleh para selebritis. Trend ini tidak mampu bertahan lama. Banyak “usaha dadakan” ini terpaksa gulung tikar. Entah kemana para wirausahawan baru kita ini akhirnya menggantungkan nasibnya sekarang.


Referensi: Dari berbagai sumber

Read More......

Langkah awal memulai usaha


Berniat membangun usaha? beriut ini adalah gerakan langkah yang harus anda lakukan sebelum memulainya.

1. START WITH A DREAM
Mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan yakinkan akan produk yang akan kita tawarkan. A dream is where it all started : Pemimpilah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, cara pelayanan, jasa, ataupun ide yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan keterikatan, tak mengenal kata “tidak bisa” ataupun “tidak mungkin”.

Read More......

Hidup Itu Harus Dijalani


Kiat Wirausaha Sukyatno Nugroho

"Kiat selalu menggoda. Bagaimana orang bisa sesukses itu? Apa yang mereka lalukan? Banyak wirausaha menjawab seadanya. Sukyatno Nugroho punya tiga: melakoni, pantang menyerah dan kerja keras. Klise tapi terbukti."

Es Teler 77, Mie Tek-tek, dan Pasti Enak adalah waralaba-waralaba nasional yang tergolong sukses. Di balik kesuksesan bisnis itu adalah Yenni Setia Widjaja yang hobi memasak, dan suaminya Sukyatno Nugroho. Suami istri bisnisman ini kini tergolong sebagai pengusaha yang sukses. Merk-merk dagangnya berkibar dimana-mana melalui sistem waralaba atau franchise. Sebelum krisis moneter menerpa jumlah terwaralaba (Franchisee) mencapai 200 cabang untuk Es Teler 77, 20 cabang untuk Mie Tek-Tek. Ide Es Teler 77 Juara Indonesia sendiri, sebenarnya bermula dari keberhasilan mertua Sukyatno, Ny Murniati Widjaja, yang memenangkan Juara I Lomba membuat es teler se- Indonesia pada tahun 1982. Disamping itu suami istri ini juga didukung sepenuhnya oleh Trisno Budiyanto, manajer keuangan Es Teler 77.

Dalam banyak seminar, Sukyatno sering memperkenalkan dirinya sebagai penyandang gelar MBA yang kependekan dari "Manusia Bisnis Asal-asalan". Jalan hidupnya memang awut. Di sekolah peringkatnya adalah nomor 40 dari 50 murid. Ijasahnya hanya sampai SMP. Di SMTA ia hanya tahan 3 bulan di kelas satu. Pengalaman bisnisnya pun termasuk "asal-asalan". Ia pernah menjadi salesman kondom, obat cina, bahan kimia, dan barang-barang teknik. Ia belum pernah diterima sebagai pegawai bulanan. Tetapi ia pernah menjadi pemborong bangunan, reklame, leveransir, percetakan, biro jasa sekaligus tukang catut serabutan. Bangkrutpun pernah dialami sampai habis-habisan. Tepatnya ini terjadi duapuluh tahun yang lalu, pada tahun 1978. Sukyatno terpuruk hutang. Hutangnya dibanding kekayaan yang dipunyai ketika itu adalah 10 : 1. Jadi debt service rationya sudah mencapai 1000% disitulah hobi masak Yenny berperan sebagai penyelamat. Isterinya itu berjualan bakmi di garasi rumahnya.

Pernah si wirausaha ini meneteskan air matanya karena dari hasil jualan bakminya waktu itu tidak mampu untuk membayar sekolah anaknya. Dan dengan bekal turun kelapangan dari bisnis-bisnis sebelumnya, Sukyatno mampu mengembangkan Es Teler 77 dengan cepat dan kini sudah memasuki tahapan stabil. Kini bahkan sudah dilakukan diversifikasi melalui pembukaan Mie Tek-Tek, dan Pasti Enak yang menjual aneka hidangan ikan.

"Lebih dari itu determinasi untuk mewujudkan "mimpi" adalah satu satu kunci sukses Sukyatno dan Yenni. Kesuksesan seorang wirausaha bukan sesuatu yang instan. Ia bermimpi sukses, lalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Ia melihat suatu peluang. Lalu ia mengerahkan sumberdaya orang untuk mengejar puluang. Seorang wirausaha bekerja keras untuk mentranformasi peluang itu menjadi suatu hasil nyata."

Ceritera Sukyatno
Mungkin karena pendidikannya yang berhenti di tengah jalan, Sukyatno tidak mempunyai banyak pilihan karier. Pilihan yang terbuka luas adalah terjun ke lapangan, mengais rejeki apa saja yang mungkin. Langsung terjun, kerja keras, tidak mundur oleh kegagalan, ketiga langkah ini yang mewarnai sepak terjang Sukyatno Nugroho. Dalam suatu seminar tahun lalu yang diselenggarakan oleh Forum KUKKI dan Inti pesan Pariwara, Sukyatno menceriterakan kehidupan wirausahanya, "Hidup saya amat dipengaruhi oleh motto klasik bahkan klise. Namun ternyata manjur untuk sampai sebutan "sukses", terutama dalam berwiraswasta.
Motto-motto itu adalah:

Hidup ini harus dilakoni (dijalani), bukan hanya di khayalkan.

Kegagalan dalam hidup adalah kesuksesan yang tertunda.

Hidup harus diisi dengan kerja keras, dengan menggunakan akal, bukan Sekedar Okol

Dalam falsafah "Hidup ini harus dilakoni, bukan di khayalkan", saya menarik beberapa simpul yang penting. Satu di antaranya yang patut diperhatikan ialah: kecenderungan anak untuk ikut menikmati hasil kekayaan orang tuanya, atau mertuanya, atau saudara dekatnya. Bagi saya, kecenderungan seorang anak ikut menikmati kekayaan pendahulunya, bisa disebut sebagai anak yang memakan khayalan. Atau anak yang melahap angan-angan, karena khayalan atau angan-angan itu sekonyong-konyong sudah ada di hadapannya. Hal itu, bagi saya sangat tidak realistis, dan harus dihindari, karena dengan begitu ia tidak masuk kriteria melakoni hidup.


Bagi saya, memakai hasil kekayaan para pendahulunya (orang tua, mertua, dan sebagainya) sama dengan minum racun. Sebab, bila seorang anak neggak fasilitas itu melebihi kadar, akan over dosis dan mabuk. Kemabukan anak itu bisa berupa kemalasan, ketidakkreatifan, kebodohan. Dan hal tersebut akan berujung pada ketidak majuan. Anak muda menjadi mandul.

Hal demikian saya tanamkan kepada anak-anak saya. Saya selalu mengatakan bahwa saya tak punya apa-apa. Karena itu, sekolahlah rajin-rajin. Dan terampillah dalam bergerak di lapangan. Lalu saya harapkan ia mengikuti semua aktivitas ekstra kurikuler, seperti Pramuka, PMR, PMI, dan sebagainya.

Saya merasa itu adalah pendidikan keterampilan paling awal, yang akan membawa anak ke sukses lapangan. Kini anak-anak saya remaja, dan saya sekolahkan di Australia. Keterampilan yang dibawa dari ekstra kurikulum di Indonesia, ternyata bermanfaat di sana. Ketika di kotanya terjadi banjir, mereka bisa langsung terlibat, membikin bantuan PPPK dan sebagainya. Usaha sukarela ini berlanjut kepada kegiatan yang lain. Ketika musim libur, ia jadi tidak canggung-canggung lagi turun ke lapangan.

Anak saya siap menjadi tukang cuci, atau loper koran, atau tukang lap meja sebuah restoran. Semangat ringan tangan mereka ditolakkan dari perasaan sebagai "orang bawah", sebagai orang biasa. Kalau mereka sejak kecil dibiasakan dengan spirit anak orang kaya, saya rasa mereka akan celaka. Kemauan ringan tangan inilah yang membuat mereka terampil. Dan kemauan untuk ringan tangan itu membawa anak-anak kepada benturan-benturan ilmu baru, ilmu yang dengan serta merta ia dapatkan secara formal. Saya yakin, hasilnya adalah sejumlah sikap kewiraswastaan yang punya prospek hebat. Sebab yang dipegang akhirnya ialah "Ilmu Plus", yakni ilmu keterampilan, feeling dan strategi.


Orang yang biasa di lapangan, biasanya tak takut pada kejatuhan. Karena ia bermula dari bawah sekali. Dan kalau pun jatuh, ia bisa pakai rumus silat: Terjerembab satu kali, bangun dan menendang tujuh kali. Atau mundur selangkah, untuk menerjang maju tujuh langkah. Karena itulah, motto: Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, memperlihatkan kebenarannya. Bekerja dengan merangkak dari bawah, dengan bekerja keras memakai akal-bukan okol sesungguhnya adalah proses yang nikmat dan dapat menjadi sejarah yang bagus buat semuat orang."

Ubah Peluang Menjadi Hasil Nyata
Pengusaha Es Teler 77 ini merupakan salah satu varian dalam panorama wirausaha. Ia melihat peluang, ia mengetahui perilaku pasar, ia bersedia bekerja keras mewujudkan peluang tersebut menjadi suatu hasil nyata yang menguntungkan. Produk yang dijualnya sebenarnya merupakan hal-hal yang juga sudah dijual oleh para pengusaha lainnya. Es Teler, Mie Tek-Tek, aneka hidangan ikan, adalah makanan-makanan yang sebenarnya biasa. Yang tidak biasa adalah cara wirausaha ini dalam melakukan differensiasi terhadap produk yang dijualnya. Ia memberikan merk dagang pada produknya, dan berkat ketekunan dan kerja keras, merk dagang itu lalu mempunyai nilai jual (brand equity) yang memberikan persepsi produk makanan yang higienis dan berkelas. Es Teler 77 diterima di banyak pasar. Namun ada juga yang menolak, semisal di Aceh karena nama tersebut memberikan konotasi kepada tindak mabuk-mabukan yang diharamkan oleh ajaran agama.

"Lebih dari itu determinasi untuk mewujudkan "mimpi" adalah satu satu kunci sukses Sukyatno dan Yenni. Kesuksesan seorang wirausaha bukan sesuatu yang instan. Ia bermimpi sukses, lalu bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. Ia melihat suatu peluang. Lalu ia mengerahkan sumberdaya orang untuk mengejar puluang. Seorang wirausaha bekerja keras untuk mentranformasi peluang itu menjadi suatu hasil nyata."
Referensi: Dari berbagai sumber

Read More......

Bersikap Sebagai Entrepreneur


"Bagaimana sebaiknya sikap yang diambil oleh entrepreneur, apabila kegiatan bisnisnya terkena dampak krisis ekonomi?"


Sebagai pemimpin perusahaan dalam menghadapi masalah ini, saya kira kita harus menjadi entrepreneur sejati yang emosinya cerdas. Entrepreneur yang saya maksud disini adalah entrepreneur yang tidak mudah panik, sebab jika panik, justru mengakibatkan sesuatu yang lebih parah lagi. Misalnya, kalau pimpinannya panik, maka karyawannya pun akan ikut panik. Ibarat sebuah bandul, jika titik pusat bandul itu bergerak, maka bola yang ada di bawahnya akan ikut bergerak lebih lebar.

Berpikir optimis bagi seorang entrepreneur dalam menghadapi krisis adalah seperti seorang akrobatik yang tengah meniti tambang. Saya kira, kita pun bisa sebagaimana seorang pesulap yang melepaskan diri dari ikatan. Dalam kaitan ini, saya juga berpendapat dengan entrepreneur dari Paman Sam, Don L. Gevirts, bahwa entrepreneur itu
harus secara terus menerus dapat melihat peluang yang tidak dapat dilihat oleh orang lain, tidak pernah merasa puas, dan bisa mengeksploitasi sekecil apapun perubahan yang ada.

Sebagai seorang entrepreneur, saya sendiri lebih memandang krisis ekonomi bukan sebagai krisis, tetapi sebaliknya saya memandangnya sebagai sebuah siklus.Mengapa? Ibarat sebagai sebuah roda, sekali waktu tiba di bawah, dan suatu saat akan tiba di atas. Saya sendiri dapat merasakan, bahwa entrepreneur itu ibarat seorang kapten kesebelasan sepakbola, yang harus menjadi inspirator tim sekaligus playmaker yang handal.

Saya harus tahu, kapan harus menjemput bola, dan kapan harus melepas bola. Bahkan, saya pun harus tahu bagaimana cara memanfaatkan bola liar atau bola muntah di depan gawang. Oleh karena itu, saya menyadari bahwa saya harus mempunyai winning commitment atau komitmen untuk menang atau komitmen untuk berhasil secara tepat dan memadai. Dengan cara itu, saya tetap berpikir optimis dalam menerjuni bisnis. Saya tidak boleh mudah terkejut oleh kesulitan, bahkan dengan adanya kesulitan itu saya harus mencari semakin optimis untuk mencari pemecahannya dan semakin memupuk sifat ketabahan. Artinya dengan memiliki sifat tabah, kita akan tetap siap menghadapi segala kemungkinan, terutama ketika orang lain mengalami putus asa karena menghadapi krisis.

Memang saya akui, dalam kondisi seperti itu, ada kelompok yang pesimis, loyo atau tidak bergairah dan bersikap menyerah pada nasib, selain itu ada juga kelompok yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam kondisi krisis saya yakin bahwa saya sendiri maupun entrepreneur yang lain masih tetap ada proses bisnis di masa depan. Dengan kata lain, entrepreneur dituntut tetap tangguh yang didukung oleh spirit, wawasan, dan pengetahuan dan keterampilan manajerial yang handal, serta mampu menyesuaikan dengan perubahan yang sanagat cepat. Selain itu, seorang entrepreneur harus lebih jeli memanfaatkan situasi, misalnya jeli dalam memandang bagaimana krisis ekonomi ini bisa dimanfaatkan untuk bisa mencari peluang. Oleh karena itu saya yakin bahwa aneka peluang muncul justru pada saat kita sedang krisis. Saat dalam kondisi normal dan baik, itu memang bagus, tetapi pada saat dilanda krisis, kalau dapat kita harus lebih bagus lagi. Kita semua harus meyakini hal itu.


Tidak Panik Menghadapi Krisis
Pada masa krisis ekonomi, entrepreneur atau wirausahawan perlu mengembangkan kecerdasan emosional. Dengan begitu ia akan mampu melihat peluang yang ada di sekitarnya. Entrepreneur yang cerdas emosinya tentu juga memiliki "intuisi" yang tajam. Ia dapat menangkap peluang yang tidak dapat dilihat orang lain walau dengan data yang tidak lengkap, ia bisa membuat konklusi yang pas. Dalam kondisi apapun, entrepreneur harus menjadi orang yang action oriented, bukan no action, dream only. Untuk itu diperlukan secara detail terhadap hal-hal yang penting, bila kemudian muncul resiko, dia siap menanggung resiko apapun atas aktivitas bisnisnya. Namun secepat itu pula dia akan melangkah maju untuk menjadi lebih baik.

Entrepreneur semacam ini sangat kita butuhkan, seorang entrepreneur yang cerdas emosinya. Dengan kita berani mengambil resiko, maka kita akan lebih terbuka dalam mengambil peluang. Sebab kalau kita baru berusaha setelah pasarnya "diamankan", itu bukan seorang entrepreneur.

"Entrepreneur harus punya keberanian yang menakjubkan untuk menjadi untung, harus berani memanfaatkan setiap ancaman menjadi peluang, bukan sekedar berusaha menghindar dari ancaman. Dalam kasus ini saya banyak belajar dari entrepreneur cerdas bernama Konosuke Matsushita dari negeri Sakura yang merupakan pendiri Matsushita Electric, Ltd. Jepang."


Dalam biografinya dia bercerita bahwa pada saat Jepang dilanda krisis ekonomi, Matsushita tetap optimis dan berpikir positif. Dia tetap saja melakukan kegiatan seperti sebelum krisis, dia bersikap biasa-biasa saja, dia tidak mudah terpengaruh oleh isu sebab hal itu justru akan memperparah keadaan karena proses bisnisnya menjadi tidak lancar lagi. Sebagai seorang entrepreneur, Matsushita tidak pernah panik, dan bersikap seolah-olah tidak ada krisis.

Matsushita tetap optimis pada kegiatan bisnisnya. Sikap seperti ini bisa kita tiru dan saya kira masih relevan dengan kondisi seperti saat ini. Krisis ekonomi jangan dijadikan alasan untuk tidak memulai atau mengembangkan bisnis. Bila krisis ini berakhir, apa yang akan Anda lakukan, tetap menjadi pemain atau sekedar penonton? Sebab di kala paska krisis pertumbuhan akan sanagat cepat sekali. Oleh karena itu, sebaiknya mencuri start sejak sekarang, untuk memulai atau mengembangkan bisnis yang prospektif di masa depan, anggap saja sekarang ini tidak ada krisis.

Motivasi di Tengah Kekacauan

Perubahan serba cepat dan kacau di segala bidang sungguh kita rasakan dan melihatnya saat ini. Sebagai manajer maupun entrepreneur kita akhirnya tidak hanya sekedar pandai menendang bola saja, yang bisa diposisikan dimana saja sekehendak kita, namun juga harus bisa menendang kucing yang tidak bisa kita atur karena dapat meloncat dan berlari. Sehingga tidak mengherankan kalau manajemen yang masih actual pun tidak mampu mengatasi kekacauan tersebut.

Kekacauan itu berarti banyaknya ketidak pastian. Hari ini tidak ada hubungannya dengan hari kemarin. Hari depan menjadi tidak pasti, tidak bisa diramalkan. Kondisi seperti ini menjadikan kita dalam era lonjakan kurva, tidak lancar dantidak karuan. Sehingga pengetahuan dan pengalaman akhirnya tidak dapat menjamin keberhasilan bisnis di masa depan. Kalau sudah begitu keadaannya, saya berani mengatakan bahwa tidak perlu lagi menghapal ilmu manajemen yang hanya sekedar teori. Kita justru lebih harus lebih kreatif bertanya. Karena bertanya itu tidak pernah usang. Sementara yang namanya jawaban pengetahuan itu masih ketinggalan jaman.

"Begitu juga pengalaman, keadaan yang serba cepat dan kacau itu akhirnya membuat pengalaman itu bukan lagi menjadi guru yang terbaik. Oleh sebab itu, dalam kondisi semacam ini, kita bebas saja dari ilmu pengetahuan dan pengalaman."


Mungkin saja ide saya ini dianggap aneh, tapi itulah yang namanya entrepreneur, yang identik dengan orang aneh. Tom Peter mengatakan bahwa perubahan serba cepat dan kacau itu pertanda jaman edan, sehingga di era global sekarang ini, suka atau tidak suka kita harus berani berakrab-akraban dengan kekacauan. Apalagi kita sedang millennium ketiga. Sebab tidak mustahil, pendekatan yang tidak sistematis atau tidak akademis, justru yang nantinya akan bisa menyelesaikan kekacauan.

Contohnya, Lembah Silikon di Amerika Serikat. Dahulu kawasan itu berkembang pesat dan sangat membanggakan banyak orang. Hal itu karena, Lembah Silikon telah menjadi besi sembrani yang menarik begitu banyak pengusaha yang berkecimpung dalam bisnis computer dan elektronika. Tapi sekarang yang terjadi adalah sebaiknya. Banyak perusahaan di sana menjadi bangkrut. Lembah Silikon ini berubah menjadi kuburan menjadi kuburan massal perusahaan besar. Kejadian tragis ini ternyata dialami juga oleh Negara kita. Dulu banyak pengusaha dan bank yang berjaya, kini kelimpungan dan akhirnya bangkrut.

Sementara itu, dengan semakin banyaknya ilmu manajemen, kerap kali membuat kita semakin terlalu berhati-hati dalam urusan bisnis. Kita tidak punya keberanian untuk bertindak. Dalam pikiran kita yang ada hanyalah ketakutan, kalau sudah begitu, mana mungkin kita punya semangat kerja yang tinggi dan kompetitif. Pengalaman bisnis pun semakin sulit diterapkan, bahkan kerap kali tidak jalan lagi. Perubahan serba cepat dan kacau itu membuat kita sadar, bahwa sekarang ini tidak cukup hanya bermodalkan pengetahuan yang sarat dengan teori semata.

Tetapi saat ini justru membutuhkan orang yang buta teori dan jauh dari mental sekolahan. Nyatanya, orang yang jauh dari mental sekolahan itu jutru yang bida meraih sukses. Hal itu karena mereka tidak hanya sekedar mengandalkan teori, namun mereka lebih mementingkan ketangguhan, keuletan, dan tahan banting. Sehingga semua perubahan yang serba cepat dan kacau justru dianggap sebagai tantangan. Tantangan itulah yang dapat membangkitkan motivasi.

Referensi: Dari berbagai sumber

Read More......

Berpikir Kemungkinan Sukses


Berpikir kemungkinan sukses dapat juga dilakukan melalui pendekatan religius


Saya sependapat dengan Gerry Robert, penulis buku "The Millionaire Mindset", bahwa kita sebaiknya setiap saat untuk selalu berpikir kemungkinan sukses atau successibility thinking. Jadi, kita tidak hanya cukup berpikiran positif saja seperti yang dikatakan Norman Vincent Peale. Dan, saya kira, kita pun juga tidak hanya cukup sekadar possibility thinking seperti yang disarankan Robert Schuller.

Mengapa demikian? Sebab, dengan selalu berpikir kemungkinan sukses kita akan lebih bersikap mawas diri. Tindakantindakan yang kita bangun cenderung penuh dengan kepercayaan dan keyakinan diri. Bahkan, kita akan lebih memiliki perspektif jauh ke depan. Tegasnya, berpikir kemungkinan sukses itu sama halnya dengan sukses (success) ditambah kemungkinan (possibility ).


Bill Gates (44 tahun), tanpa dia terbiasa successibility thinking,tentu tidak mungkin berani mendirikan perusahaan Microsoft. Padahal saat itu, dia masih berusia 19 tahun.


Di perusahaan komputer itu, dia angkat dirinya bukan hanya sebagai direktur, atau manajer, tapi lebih dari itu, sebagai Presiden Direktur. Jabatan itu dipegangnya selama 25 tahun. Dan memang, pada akhirnya, ia membuktikan, bahwa bisnisnya mampu meraih sukses yang luar biasa, dan banyak dikagumi orang. Kini, namanya tercatat orang terkaya di dunia.

Dalam kaitan inilah, mungkin saja Anda akan bertanya. Sesungguhnya, seseorang itu, apakah untuk mendirikan perusahaan juga harus successibility thinking? Ataukah kita harus memiliki rasa percaya diri dulu atau sebaliknya? Kalau saya pribadi berpendapat, seseorang itu harus berpikir kemungkinan sukses dulu atau succesibility thinking, untuk mendirikan perusahaan, barulah kita memiliki rasa percaya diri.

Katakanlah, jika ada peluang bisnis, dengan kita berpikir kemungkinan sukses dulu, akan membuat kita memiliki keberanian membuat perusahaan berupa CV, PT, atau Lembaga. Kita tinggal datang ke notaris, kita bisa mengangkat diri kita menjadi direktur pada perusahaan yang kita dirikan. Itu sama saja kita sudah berpikir kemungkinan sukses.

Di dalam melakukan kegiatan bisnis, kita dapat mendeklarasikan berpikir kemungkinan sukses setiap hari, dengan sesuatu yang diyakini, yang kita anggap dapat merubah diri kita. Misalnya hari ini, kita mendeklarasikan bahwa kata favorit saya adalah "mungkin".

Saya percaya, pada apa yang mungkin. Saya melihat kemungkinan-kemungkinan di mana-mana. Saya memfokuskan pada apa yang benar, terang, dan indah. Saya melihat yang terbaik dalam setiap situasi, dan dalam setiap orang.

Dan, pada hari berikutnya, kita bisa saja mendeklarasikan, bahwa "saya orang yang bersemangat". saya percaya, saya sukses karena saya ditakdirkan untuk sukses. Saya menolak hal-hal yang tidak baik. Saya bersemangat tentang diri saya dan potensi saya. Deklarasi semacam ini setiap harinya bisa berganti-ganti sesuai dengan yang kita kehendaki.

Selain kita menggunakan model pendekatan deklarasi berpikir kemungkinan sukses di dalam bisnis setiap hari, kita juga dapat melakukan model pendekatan religius, misalnya dengan melakukan dzikir dalam hati, yang juga bisa kita lakukan kapan saja, dan dimana saja. Saya yakin, hal itu semua akan menjadikan kita lebih mudah meraih sukses. Bahkan, bisnis yang kita jalankan juga akan lebih berpeluang berkembang.

Memang, semua itu membutuhkan kemauan keras. Maka, bila kita berkeinginan menjadikan diri kita untuk selalu berpikir kemungkinan sukses, bisa saja kita memprogram ulang diri kita sendiri, dengan jalan kita menyediakan waktu untuk selalu berpikir kemungkinan sukses. Mau dicoba?


Referensi: Dari berbagai sumber

Read More......

Berkembang Dengan Franchise


Pilihan tepat mengembangkan bisnis masa depan adalah model franchise. Sebab, bisnis franchise tak hanyamenguntungkan pemilik merek saja, tapi juga menguntungkan pengguna merek.

Baru saja saya membuka cabang Primagama dengan sistem franchise di tiga kota, yaitu Pekanbaru, Sampit Kalimantan Tengah, dan Tangerang. Sebelumnya, cabang yang ada selama ini kami buka dengan dikelola sendiri. Sistem ini, saya kira sangat tepat untuk kita kembangkan. Di saat ekonomi mulai membaik, usaha kita bisa tetap berkembang meski tidak dengan menyiapkan dana sendiri. Justru dengan sistem franchise, kita akan mendapatkan dana awal dan royalti.

Franchise adalah pemberian hak pada seseorang dalam penggunaan merek, untuk menjalankan usaha dalam kurun waktu tertentu. Sistem ini lebih menguntungkan untuk mengembangkan usaha kita dibanding cara yang lainnya. Oleh karena, ketika kita menggunakan sistem franchise terhadap usaha kita, maka jelas orang lain membayar merek dan royalti tiap bulannya pada kita. Biayanya lebih rendah dari pada cara lainnya, dan kita tak perlu mengalokasikan uang atau modal untuk tempat usaha dan yang lainnya.

Selain, tak perlu merogoh kocek untuk investasi lagi, ternyata keuntungan yang bisa dipetik oleh kita sebagai pemilik merek dari cara berekspansi model ini, cukup besar. Bahkan, kerap kali usaha yang dikelola dengan cara ini lebih maju ketimbang kita membuka cabang sendiri. Ternyata sistem ini, juga lebih mudah segera menciptakan lapangan kerja. Jika kita tahu manfaat sistem ini, mengapa kita tidak berani mengembangkan sistem franchise dalam bisnis kita agar bisa lebih berkembang?

Menurut saya, bisnis franchise cukup menjanjikan. Maka, sebelum kita membuat sistem ini, kita harus jeli dan hati-hati dalam menentukan pewaralabanya. Dapatkah dia atau pewaralaba menjalankan usaha yang kita jalankan? Dapatkah dia memperoleh keuntungan menjalankan usaha kita? Begitu juga lokasi waralaba pun perlu kita cermati. Dapatkah usaha kita sukses di daerah tersebut? Apakah usaha kita menarik orang lain?

Sebagai seorang entrepreneur, saya sendiri melihat sebenarnya begitu banyak produk lokal yang bisa dikembangkan dengan sistem franchise. Menurut hasil pemantauan Asosiasi Waralaba Indonesia, kini tak kurang dari 292 perusahaan lokal yang menyelenggarakan waralaba.

Saya kira, upaya itu positif. Bahkan, saya punya keyakinan bahwa bisnis waralaba merek lokal akan jauh lebih berkembang, karena sebenarnya begiru besar potensi merek lokal. Misalnya di Yogya: Soto Pak Sholeh, Soto Kadipiro, Sate Samirono, Ayam Goreng Ny. Suharti, Bakmi Mbah Mo, Bakmi Kadin, SGPC, dan Bakpia Patuk. Sebenarnya, masih banyak produk merek lokal lain yang tidak harus berwujud makanan, yang ternyata sangat memungkinkan juga untuk masuk ke bisnis waralaba.

Jika merek lokal tersebut masuk bisnis waralaba, maka tak mustahil, tak hanya menjadi produk nasional, tapi juga produk global. Hanya saja, kita belum mencobanya. Untuk membantu mengembangkan sistem ini, memang perlu ada semacam lembaga yang mengembangkan atau menyiapkan sistem franchise mulai dari persiapan awal sampai jadi. Kita bisa sebagai konsultannya atau lembaga yang mengantarkan franchise.

Ini sebenarnya merupakan peluang bisnis yang menarik kita kembangkan. Hanya saja, hal itu perlu diikuti dengan membuat Standard Operating Procedure (SOP), Guaranteed income level, Complete Training & Continued Support, dan lainnya yang merupakan rangkaian dari proses franchise itu sendiri. Tentu saja, produk yang diwaralabakan itu harus merupakan produk yang disukai atau dibutuhkan oleh pasar. Cara mengembangkan bisnis dengan melibatkan nama besar sekaligus penularan trik-trik dagang dalam memperoleh keuntungan itu, sekarang memang telah ada. Seperti misalnya, merek lokal Es Teler 77, Mie Tek-Tek, dan Ayam Goreng Mbok Berek Ny. Umi. Sementara, McDonald's, Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken (KFC), dan English First yang merupakan waralaba asing justru telah mendahului dari pada
merek lokal, dan ternyata produk itu memikat pasar.

Bisnis franchise ini sebenarnya tak hanya menguntungkan pemilik merek saja, tapi bagi yang menggunakan merek tersebut juga memetik untung cukup besar. Walaupun, untuk membeli merek tersebut, dia mesti merogoh kocek yang tidak sedikit, kendati tidak semahal fee franchise asing. Baik itu, untuk membayar fee franchise, sarana pendukung plus pelatihan atau training bagi karyawan.

Saya yakin, dana yang dikeluarkan pembeli merek itu akan cepat kembali. Sebab dalam sistem ini, semuanya telah ada hitungannya secara rasional. Oleh karena itulah, jika Anda ingin mengembangkan bisnis ke depan, maka cara yang paling cepat dan menguntungkan adalah model franchise.

sumber: Purdi E. Chandra

Read More......

Anda Bisa Jadi Entrepreneur, Hari Ini Juga!


Banyak sekali jalan menjadi entrepreneur, bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bagaimana caranya? Peluang apa saja yang bisa segera ditubruk?

Tak ada profesi yang sedemokratis profesi entrepreneur (wirausaha/pengusaha). Siapa pun Anda, asalkan hari ini punya keberanian, hari ini juga Anda bisa langsung menjadi pengusaha -- bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bandingkan, misalnya, untuk menjadi dokter, Anda mesti kuliah dulu bertahun-tahun di fakultas kedokteran. Demikian pula profesi lain seperti pengacara, arsitek, apoteker, psikolog, atau ahli konstruksi.

Memang, umumnya orang berpandangan, untuk menjadi wirausaha kita harus menyiapkan uang tunai lebih dulu sebagai modal. Itu sebabnya banyak orang sibuk berburu uang untuk menghimpun modal, biasanya dengan menjadi karyawan di perusahaan orang. Setelah dirasa cukup, barulah memutuskan membuka usaha sendiri. Namun ceritanya akan lain jika -- dan ini yang sering terjadi -- uang yang didapat ternyata dirasa hanya pas untuk hidup sehari-hari. Alhasil, cita-cita membuka usaha sendiri tinggallah cita-cita, karena usia keburu habis tersita untuk memikirkan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Pandangan bahwa untuk memulai usaha harus tersedia uang tunai, tak sepenuhnya benar. Dan itu telah dibuktikan oleh para pengusaha sukses. Sebagian besar dari mereka mengawali usaha justru ketika mereka tidak punya apa-apa, terdesak, putus sekolah/kuliah lantaran tak ada biaya, atau bahkan karena merasa terhina. Dalam kondisi nothing to loose ini, keberanian dan kenekatan mereka muncul. Dalam kondisi bukan siapa-siapa, mereka dipaksa untuk membangun “mimpi” masa depan, tertantang untuk meraihnya, dan berusaha keras menyusun strategi untuk mencapainya.

Keberanian dan motivasi yang menyala-nyala itu sekaligus menyingkirkan segala hal yang sebelumnya dianggap memalukan. Misalnya, karena tak punya uang serupiah pun di kantong, mereka tak segan-segan mengawali usaha sebagai makelar rumah, mobil, barang elektronik, aneka bahan bangunan, bahan kebutuhan pokok, atau barang-barang lainnya. Dengan modal dengkul ini, mereka langsung memetik keuntungan dari komisi atau berdasarkan kesepakatan
lain yang ditentukan bersama pemilik barang.

Cara lain, misalnya, menjual jasa dengan lebih dulu meminta uang muka. Ini bisa dilakukan di industri jasa pendidikan seperti bimbingan belajar, les bahasa Inggris, kursus musik (piano, gitar, biola, dan sebagainya). Atau, bisa juga konsumen memesan barang tertentu kepada kita, tetapi sebelum barang pesanan itu kita kerjakan, kita minta uang muka lebih dulu. Nah, uang muka dari para konsumen itulah yang kita jadikan modal untuk menggelindingkan bisnis.

Gampang kan? Masih ada lagi. Kalau Anda kebetulan punya keahlian khusus, memasak misalnya, Anda bisa mencari pemodal untuk membuka restoran dengan sistem bagi hasil. Jurus-jurus seperti itulah yang tak bosannya diserukan Purdi E. Chandra, pendiri sekaligus “guru besar” Entrepreneur University, di depan para muridnya. Purdi sendiri drop out dari kuliahnya di tahun kedua gara-gara kesulitan uang kuliah dan biaya hidup. “Terus terang, dorongan terkuat dari dalam diri saya waktu memutuskan terjun ke dunia bisnis karena saya minder pada teman-teman kuliah yang hidupnya serba kepenak dan kelihatannya kaya-kaya,” ungkap pendiri dan pemilik Primagama Group, yang mengelola jaringan bimbingan belajar terbesar di Tanah Air. Kini, walaupun tidak menyelesaikan kuliahnya, Purdilah yang paling bos dan terkaya di antara anak-anak Angkatan 1979 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada yang sekarang bekerja di berbagai tempat.

Yang menggembirakan, belakangan semakin marak tren untuk sejak awal memutuskan menjadi wirausaha sebagai pilihan hidup. Banyak lulusan segar perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri, tanpa ragu bertekad membangun bisnis sendiri. Demikian juga, tak sedikit profesional di perusahaan mapan tiba-tiba ganti haluan menjadi pengusaha.

Seperti akan Anda baca pada tulisan Sajuta berikutnya, dengan bekal pendidikan yang lebih bagus, luasnya jejaring serta pengalaman yang matang, kelompok ini memang relatif lebih jeli memilih bidang bisnis yang belum digeluti orang, sehingga banyak dari mereka cepat meraih sukses. Namun, yang paling disaluti dari mereka adalah keberaniannya memutuskan terjun di dunia bisnis, membangun visi, dan eksekusinya yang gigih.

Sungguh banyak jalan untuk menjadi wirausaha. Profesi seperti dokter, arsitek, desiner interior, pengacara, atau bahkan artis, sebetulnya tinggal selangkah lagi bisa menjadi pengusaha jika mereka mau. Dokter bisa bikin klinik atau bahkan rumah sakit sendiri. Pengacara dapat mendirikan kantor konsultan hukum. Desainer interior bisa bikin kantor konsultan desain dan interior. Artis, dengan pergaulannya yang luas, bisa segera mendirikan rumah produksi sendiri.

Kalau punya uang dan tak ingin terlalu repot, Anda bisa langsung menjadi pengusaha dengan membeli waralaba (franchise) produk/jasa terkenal yang sudah terbukti sukses. Dengan semakin derasnya arus barang (baik lokal maupun dari mancanegara), bisnis keagenan dan distribusi pun sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dalam perjalanannya, seperti halnya dalam kehidupan yang lain, para wirausaha pun dihadapkan pada banyak jebakan dan godaan. Salah satu sindrom yang sering muncul adalah euforia sukses.

Karena telah membuktikan diri sukses, dorongan untuk mengejar sukses-sukses yang lain pun sering sedemikian menggebu sehingga mengabaikan kemampuan riilnya. Banyak contoh pengusaha yang awalnya maju pesat berkat bisnisnya yang berkembang sangat bagus, tiba-tiba limbung lalu terjungkal gara-gara terlalu ekspansif ke bidang-bidang baru yang belum begitu dikuasainya. 

Jadi, hati-hatilah. Laju boleh cepat tapi ritme hendaknya tetap terjaga.Yang jelas, gairah menuju entrepreneurial society ini perlu disambut hangat.

Sebab, sumbangan pengusaha kecil dan menengah terhadap perekonomian nasional -- seperti sudah sangat kerap didengung-dengungkan -- tak perlu disangsikan lagi. Terutama, dalam hal penyediaan lapangan kerja dan andilnya dalam membangun struktur perekonomian nasional yang sehat. Karena itu, sudah saatnya pemerintah (khususnya pemda) makin terpacu untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi munculnya para wirausaha baru. Bentuknya bisa macam-macam, antara lain ketersediaan kredit yang memadai bagi small and medium enterprises, penyaluran dana BUMN ke sasaran yang tepat, tidak membebani pajak secara tidak proposional, dan lain sebagainya.

Kegairahan yang sama juga dirasakan SWA yang secara reguler menggelar program Enterprise 50 (E-50), yakni membuat peringkat perusahaan-perusahaan kecil dan menengah. Pada penyelenggaraan yang kelima ini, SWA bekerja sama dengan PT Usaha Kita Makmur Indonesia didukung oleh Accenture. Tujuan utamanya agar semakin banyak lahir wirausaha yang tangguh. Di samping, tentu saja, terus memacu perusahaan kecil-menengah yang sudah ada agar terus berkembang secara kompetitif dan bermanfaat bagi semua stakeholder.

Dari Majalah Swa

Oleh : Harmanto Edy Djatmiko

Read More......

Jadi Pengusaha Tak Harus Pintar


Berikut ini dipaparkan beberapa kutipan Purdi E Chandra, pendiri Primagama dan Entrepreneur University yang menjadi pembicara utama dalam seminar yang mengangkat tema "gila", maka setiap ungkapan yang dikemukakan Purdi terasa "gila" dan membuat peserta tertawa. Saya masuk kuliah di empat universitas tapi tidak selesaikan kuliah.

Tapi saya juga heran kenapa bisa dirikan Primagama, sebuah lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia yang cabangnya sampai ratusan. Padahal saya tidak terlalu pintar-pintar amat. Makanya saya berpikir kalau kita terlalu pintar
menyebabkan terlalu banyak pertimbangan, yang akhirnya tak ada sama sekali yang bisa dikerjakan.

Makanya mungkin alangkah baiknya anak kita jangan terlalu pintar (hadirin tertawa). Anak saya yang di SMP ranking 11 langsung minta mobil. Ini sudah luar biasa dibandingkan sebelumnya yang ranking 20-an. Dia juga mau jadi pengusaha. Lihat saja banyak orang pintar tapi tidak mau kerja.


Untuk mau menjadi pengusaha jangan terlalu banyak pertimbangan. Laksanakan saja niat itu dan tunggu hasilnya. Coba lihat pakar akuntansi tidak mau berusaha karena apa. Yah itu tadi karena mereka belum berusaha sudah takut jadi pengusaha, karena mereka sudah mempelajari dulu hitung-hitungan menjadi pengusaha yang mengerikan makanya
mereka takut sebelum berusaha.Lalu kenapa orang mau jadi pengusaha. Saya kira Jaya Setiabudi sudah memaparkan banyak tadi.

Yah jadi pengusaha itu misalnya gini, saya merasa tiap hari kerjanya apa. Paling kalau ada yang mau ditandatangani baru muncul. Makanya yang perlu diketahui calon pengusaha tidak usah muluk-muluk kalu sudah bisa tanda tangan yah bagus-lah (hadirin tertawa).

Pengusaha itu tidak perlu tinggi-tinggi sekolah, karena yang mereka perlukan hanya tahu tanda tangan dan mengingat bentuk tanda tangannya jangan sampai salah tanda tangan satu dengan lainnya.Selain itu, pengusaha kebanyakan dari orang malas. Sebab orang yang sudah pintar itu diperebutkan sama perusahaan untuk menjadi karyawan. Makanya yang jadi pengusaha itu dulunya orang malas. Orang malas sebenarnya bukan hal yang negatif karena melihat pengalaman selama ini, kebanyakan mereka yang jadi pengusaha.

Nah, orang pintar akan dibutuhkan pengusaha sebagai tulang punggung perusahaan. Misalnya, saya sebagi Direktur, banyak pegawai saya adalah para doktor, sementara saya tamat kuliah juga tidak. Paling saya membuat akademi perguruan tinggi dan memanggil para doktor mengajar di tempat saya dan gelar saya dapat dari akademi saya sendiri.

Setelah berbicara bahwa seorang pengusaha tak harus pintar, pendiri lembaga pendidikan Primagama dan Entrepreneur University, Purdie E Chandra, mengupas pembicaraan mengenai fungsi otak kanan sebagai salah satu tips menjadi pengusaha, berikut beberapa petikannya.Untuk menjadi pengusaha memang harus sedikit "gila". Lebih gila lagi kalau teman-teman tidak mau jadi pengusaha (hadirin tertawa). Untuk menjadi seorang pengusaha pakailah otak kanan Anda.

Kalau perlu jangan gunakan sama sekali otak kiri. Kenapa harus otak kanan?Ini yang lucu karena otak kanan mengajarkan kita hal yang tidak rasional. Berbeda dengan otak kiri, ia memberitahukan sesuatu yang rasional, teratur, dan berurut-urut.

Misalnya begini, murid SD disuruh kreatif sama gurunya. Ia disuruh membuat gambar pemandngan. Karena dari dulu gambar pemandangan yang ia tahu hanya yang ada gunung lalu dibawahnya jalan raya dan sungai, maka sampai dia SMU pun hanya gambar itu yang ia tahu. Ketika diperintahkan menggambar pemandangan. Ini keteraturan tapi tidak ada kreativitas. Kalau ada otak kanan maka ia akan memberitahukan sesuatu yang lebih kreatif.

Lalu, apakah Anda mau dari dulu jadi karyawan terus menerus, tidak kreatif ingin menjadi pengusaha dan punya karyawan.Atau begini, anda bangun setiap pagi, mandi, naik angkot ke kantor, bekerja lalu menjelang sore pulang ke rumah setelah itu tidur dan besoknya lagi ke kantor.

Itu dijalani selama belasan tahun bahkan sampai kakek-nenek. Dan sama sekali terbatas waktu yang sebanyak-banyaknya dengan orang luar yang lain dari yang dibayangkan.Itulah keteraturan dan yang mengatur semua itu adalah otak kiri. Apakah Anda mau seprti itu seterusnya? Makanya gunakanlah otak kanan. Mau jadi pengusaha biasakanlah otak kanan Anda yang bekerja.

Dan Anda tak perlu setiap hari ke kantor dan pulang sore. Kenapa tangan kanan kita selalu bergerak? Karena yang menggerakan adalah otak kiri makanya teratur hasilnya. Lalu, apakah kita harus seperti anak SD terus yang hanya pintar menggambar pemandangan satu model yang diajarkan gurunya?Otak kanan tidak banyak hitungan atau pertimbangan macam-macam. Ia lebih banyak mengerjakan apa yang dipikirkannya. Kalau mau usaha jangan terlalu banyak hitung-hitungan.

Waktu bikin banyak usaha saya tidak banyak hitung-hitungan dan Alhamdulillah sukses. Saya kira banyak pengusaha lain yang seperti itu. Lihat saja beberapa orang terkaya di dunia tidak sampai selesai kuliahnya, Bill Gates misalnya bahkan dia menjadi penyokong dana utama Harvard University (Universitas ternama dunia di Amerika).

Ibaratkan kita mau jadi pengusaha itu sama seperti ketika hendak masuk kamar mandi. Kenapa? Karena masuk kamar mandi kita tidak berpikir pikir....

kalau kebelet....yah langsung masuk saja. Terserah di dalam kamar mandi "sukses" atau tidak itu urusan belakang. Kalau di dalam kamar mandi tidak ada sabun kan kita akhirnya keluar juga dan ada upaya untuk mencari.

Orang terkadang akan mencari sesuatu apapun yang menurutnya mendesak dengan berbagai cara. Kalau pun pada saat itu tidak ada sabun di rumah ia akan berusaha untuk mencari sabun sampai dapat. Untuk latih otak kanan tidak perlu sekolah-sekolah tinggi. Anak saya yang SMP sekarang kalau bukan karena takut ditanya calon mertua kelak, mungkin dia sudah berhenti sampai SMP saja. Jangan sampai calon mertua nanti tanya, anaknya lulusan apa? (peserta seminar tertawa).

Referensi: Dari berbagai sumber

Read More......

1.21.2010

Memotivasi Diri Setiap Hari



"Motivasi adalah energi. Yang membakar setiap otot dan relung nadi kita untuk meraih segala cita2."


Seringkali rutinitas, dan berbagai masalah yang datang silih berganti setiap hari membuat kita kehilangan motivasi untuk mendapatkan yang lebih baik dalam kehidupan. Hingga semua tujuan kita mengabur dan lama-lama menghilang. Berikut kami sampaikan tujuh cara untuk mendapatkan motivasi setiap hari:



1. Ciptakan Hasrat - Lihat imbalan dari usaha Anda secara jelas. Cara ini memberikan banyak motivasi untuk membuat rencana Anda cepat terwujud. Bayangkan rumah impian Anda setiap hari, dan ini akan memberikan Anda dorongan untuk menjadikannya nyata.

2. Ciptakan Rasa Sakit - Dalam program Neuro-Linguistic mereka mengajarkan pada Anda untuk menghubungkan rasa sakit dengan tidak melakukan tindakan. Gambaran kekasih Anda keluar dengan orang lain, saat Anda menyaksikan itu dengan diam-diam, hal itu mungkin membuat Anda termotivasi membicarakan hal-hal yang Anda hindari dengan pasangan Anda.

3. Bicarakan Rencana Anda - Bicaralah pada pasangan Anda tentang rencana Anda, atau tuliskan dalam selembar kertas apa yang akan Anda lakukan lalu tempelkan di kulkas.

4. Miliki Sebuah Ketertarikan yang Nyata - Jika tak ada ketertarikan sama sekali Anda mungkin perlu melakukan sesuatu, untuk itu buat sebuah tujuan besar dalam pikiran Anda.

5. Miliki Energi - Kafein akan memberikan rasa sehat untuk sesaat, tapi dalam satu atau lain cara, Anda membutuhkan energi lebih sebagai motivasi untuk setiap hari, misalnya dengan olah raga atau tidur cukup.

6. Ciptakan Keseimbangan Mental - Sangat sulit untuk menemukan motivasi jika Anda dalam keadaan tertekan. Hilangkan beberapa perasaan negatif Anda, atau pada akhirnya pilih kerjakan pekerjaan penting saat Anda dalam mood yang bagus.

7. Ambil Sebuah Langkah Kecil - Lakukan pengumpulan untuk satu tas besar daun-daun di halaman. Dan denagn segera Anda akan membersihkan halaman. Setiap sebuah langkah kecil yang Anda ambil untuk mencapi tujuan akan memberikan motivasi pada Anda setiap hari.






Referensi: Dari berbagai sumber

Read More......

Meraih Penghasilan Dari Rumah


"Ide menjalankan bisnis rumahan, sungguh ide yang menarik. Waktunya fleksibel, bebas stress lantaran kemacetan lalu lintas, tak terlalu banyak aturan dari perusahaan, dan berbagai kelebihan lainnya. Bagaimana memulainya?"

Bisnis atau usaha rumahan adalah bisnis yang dijalankan dari rumah. Bisa jadi sebagian atau seluruh kegiatannya dilakukan di luar rumah, namun pusat dari kegiatan itu tetap dijalankan dari rumah.


Sebagai sebuah sambilan, bisnis semacam ini dapat menambah pemasukan. Namun tak jarang pula bisnis ini menjadi sebuah pekerjaan utama bagi sebagian orang. Sebagai sebuah pekerjaan utama dan dikelola secara serius, bisnis rumahanpun bisa berkembang jadi sebuah indutri yang tidak hanya menambah pemasukan keluarga, bahkan bisa menghidupi banyak orang. Banyak kisah sukses perusahaan besar bermula dari sebuah bisnis rumahan.

Sebagai langkah awal, bisnis yang dijalankan dari rumah ini tampaknya cocok dengan kehidupan ibu rumah tangga. Dengan waktu yang fleksibel, seorang ibu dapat membagi waktu antara bisnis dan urusan keluarga, semisal mengurus anak-anak, dengan sangat leluasa. Maka penghasilan tambahan didapat, keluargapun terawat.

Penghasilan dari rumah
Menurut Ustadz Iskan Qolba Lubis MA., Islam tak melarang suami istri punya penghasilan masing-masing. Tapi yang wajib membiayai keluarga tetap suami. Namun bagi seorang istri, memiliki penghasilan sendiri tentu membuatnya lebih “bebas”. “Dalam arti kalau uangnya banyak, dia bisa membantu orangtuanya. Mungkin dia tak enak bila membebankan itu pada suaminya terus. Kemudian dia juga ingin lebih banyak berinfaq. Saya rasa laki-laki dan perempuan sama, ingin bersedekah, ingin banyak membantu,” urai lulusan program master untuk Islamic Studies dari Punjab University, Pakistan ini.

Dalam memperoleh penghasilan, menurut Iskan ada 3 cara yang bisa ditempuh perempuan, yaitu bekerja pada orang lain, menjadi enterpreneur (wirausahawan) dan menjadi investor. Melihat fungsi dan peran seorang ibu, ayah 3 orang putra ini melanjutkan bahwa yang menurutnya ideal dan cukup realistis, tentu tanpa mengecilkan arti pekerjaan lainnya, adalah menjadi seorang enterpreneur. “Karena dengan enterpreneurship ini, dia berarti usaha sendiri dan berarti pula ia bebas mengelolanya. Diapun dapat menentukan kapan ia mau keluar, mungkin ia bisa mengantar anaknya dulu,” jelas dosen pada Sekolah Tinggi Tafsir Hadits, Bekasi ini.

Sejalan dengan pendapat itu, Safir Senduk, konsultan keuangan keluarga yang mengisi rubrik konsultasi keuangan di berbagai media massa, pekerjaan di rumah semacam ini akan memberi kesempatan bagi sebagian orang untuk tetap bisa melakukan tugas-tugas lainnya yang memang perlu dilakukan dari rumah. “Kalau misalnya ada hal-hal yang harus diawasi dari dalam rumah, tak usah dia tinggalkan. Dia tetap bisa berfungsi seperti biasa, misalnya fungsinya sebagai seorang ibu,” kata pendiri Biro Perencana Keuangan Safir Senduk dan Rekan ini.

Di luar soal sisi ideal bisnis rumahan bagi perempuan, Tyas U. Soekarsono Ph.D, dosen pada FEUI, berpendapat bisnis semacam ini selain memecahkan masalah ekonomi rumah tangga juga punya peran yang lebih besar. Bisnis-bisnis rumahan yang telah berkembang ternyata telah menjadi katup pengaman perekonomian Indonesia. Bagaimana tidak, disinyalir ada hampir 40 juta pengusaha kecil dan menengah di seluruh Indonesia. Sementara jumlah pengusaha di seluruh Indonesia ada 40 juta. Berarti 99 persen pengusaha di Indonesia adalah pengusaha kecil dan menengah. Siapa mereka? Ternyata mereka adalah pelaku bisnis rumahan.

Dengan perbandingan seperti itu, otomatis bisnis rumahan menyerap tenaga kerja paling banyak. “Pengusaha besar itu hanya mengambil 0,1 persen dari seluruh tenaga kerja yang ada di Indonesia. Berarti 99 persen tenaga kerja diserap oleh UKM (Usaha Kecil dan Menengah-red),” jelas Tyas. Ini membuktikan bahwa keberadaan bisnis rumahan tak bisa dipandang sebelah mata. Dan terjunnya seseorang ke usaha semacam ini sudah selayaknya mendapat dukungan.

Memulai usaha
Menurut Tyas ada 2 hal utama yang akhirnya mendorong orang untuk membuka usaha. “Pertama, seseorang melakukan sesuatu karena memang keinginan jiwanya, dia mau jadi enterpreuner. Atau karena kepepet,” kata doktor lulusan University of Illinois, Amerika Serikat, ini.

Dia mencontohkan keberadaan para pedagang “Sogo Jongkok” di Pasar Tanah Abang, Jakarta, adalah akibat krismon yang menimbulkan gelombang PHK besar-besaran. Karena kepepet, para mantan karyawan itu membuka usaha kecil-kecilan semacam itu. Dengan keadaan kepepet seperti ini biasanya orang jadi kreatif dan mampu melakukan banyak hal untuk tetap bertahan hidup, termasuk merintis usaha rumahan ini.

Iskan menambahkan pula, bahwa ketika manusia memiliki suatu keinginan dan kemudian memikirkan bagaimana mendapatkannya, maka otak akan bekerja lebih cepat. “Nanti akan timbul alternatif-alternatif,” ujarnya. Berbagai pilihan kemudian muncul dan kita bisa memilih cara agar dapat tercapai keinginan kita. Agar keluarga bisa hidup lebih sejahtera, maka perlu dipikirkan cara untuk menambah pemasukan keluarga. Potensi diri bisa terus digali.

Sesungguhnya banyak potensi perempuan yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan keluarga. Iskan mencontohkan sebenarnya banyak ibu rumah tangga yang memiliki keahlian, seperti di bidang akuntansi dan hukum. Dengan keahlian semacam itu, ia bisa saja membuka jasa konsultan dimana seluruh waktu bisa diatur sendiri olehnya. Pun bisa dilakukan tanpa terlalu sering meninggalkan rumah.

Awalnya mungkin terasa amat sulit, terutama bagi ibu rumah tangga yang sudah terbiasa “menganggur” di rumah. “Sekarang coba ia bermunajat. Di tengah malam ia bangun dan berdoa,” anjur Iskan lagi. Dengan pertolongan dari Allah, tentu seluruh gerak yang kita lakukan akan terasa jauh lebih mudah.

Sebelum memulai usaha tentu ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Namun yang terpenting menurut Safir Senduk adalah mental untuk tak terlalu cepat mengharap untung. “Yang paling penting adalah orang itu harus bersedia tidak menikmati hasilnya selama beberapa bulan ke depan,” kata lulusan STIE IBMI, Jakarta, ini. Jadi, kesabaran sangat diperlukan.

Sedang menurut Ustadz Iskan yang pertama perlu dipersiapkan adalah mental untuk berjuang. “Jangan dulu berpikir segala-galanya itu sulit. Peluang itu puluhan ribu,” imbuhnya. Kemudian yang perlu dilakukan adalah membuka mata untuk memperluas wawasan pada kegiatan usaha yang ingin dikembangkan. Setelah mengetahui secara pasti medan yang akan kita jalani, barulah kita terjun ke sana.

Sementara Tyas, yang juga menjabat sebagai Ketua Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia (JPMI), memaparkan hal-hal yang lebih teknis. Menurutnya yang harus dipertimbangkan saat memulai usaha adalah pertama, produk itu sendiri. Seseorang yang ingin memproduksi atau menjual suatu produk, harus tahu betul spesifikasi dagangannya. Dia harus memastikan produknya bisa laku di pasaran. Marketing jadi hal mutlak yang harus diperhatikan, dari pengemasan sampai siapa target pasar mereka. “Misalnya bisnis rumahan, kalau lokasinya di daerah orang-orang menengah ke atas, mungkin kurang cocok kalau misalnya berdagang peci. Akan lebih cocok kalau dagang aksesoris mobil,” gambar ayah 5 anak ini.

Kerja keras dan ketekunan
Keseriusan dan ketekunan adalah poin penting lainnya yang mendukung keberhasilan sebuah usaha. “Tidak mungkin sebuah usaha bisa langgeng dan berkembang kalau tidak diseriusi,” tegas Tyas. Sebagai sebuah usaha sambilanpun perlu adanya keseriusan, apalagi sebagai sebuah usaha utama. Soal waktu dan sebagainya, khususnya dalam bisnis rumahan yang dijalankan ibu rumah tangga, bisa disiasati. Yang penting, serius!

Keseriusan ini otomatis akan membuat seseorang bersedia bekerja keras. Namun hendaknya kerja yang dilakukan tak sekedar keras, tapi juga pintar. “Work hard dan work smart, kerja keras tapi yang pandai kerjanya. Jadi jangan kerja keras yang kemudian tidak efektif dan tidak efisien,” kata Tyas. Maksudnya semua yang dikerjakan harus terstruktur dengan tujuan yang jelas pula agar kemudian seluruh kerja bisa dievaluasi.

Sebagai seorang pengusaha juga, Tyas melihat karakter yang sebenarnya harus dihindari, namun umumnya ada pada para wirausaha di sini yaitu cepat puas dan mudah putus asa. Sekali saja berhasil, orang jadi cepat puas dan malas mengembangkan diri. Sebaliknya, kegagalan langsung menjatuhkan mentalnya. Padahal sesungguhnya keberhasilan dan kegagalan adalah proses belajar. Tidak ada yang sekali jadi. Selalu saja ada ujian. “Itu pasti. Jangankan pengusaha kecil, pengusaha besar saja banyak yang bangkrut. Itu sudah sunnatullah. Jadi pada intinya harus memiliki mental yang kuat. Jangan malas dan cepat puas. Ini adalah kerja keras,” papar suami Ira Rachmasari ini.

Sikap all out, menurut Ustadz Iskan, terutama sangat diperlukan pada tahun-tahun pertama usaha rumahan. Setelah berjalan beberapa tahun dan teruji kemapanannya, seseorang akan mampu membuat sistem untuk menjalankan usaha tersebut. Pada saat inilah, ia bisa bertindak hanya sebagai pengawas, sedang usaha dijalankan pegawainya. Bila ia seorang ibu, maka pada titik ini ia dapat lebih banyak mencurahkan waktunya untuk keluarga. Atau kemudian ia bisa membuat inovasi lainnya. Yang pasti, penghasilan telah mampu didapatnya dari rumah.
(Asmawati / laporan Rosita, Jumina)

Read More......

Membentuk Jiwa wirausaha Sejak Dini


"Tanggungjawab, kreativitas dan mampu mengambil keputusan adalah sifat yang akan muncul pada anak jika jiwa wirausaha ditumbuhkan sejak dini. Sifat tersebut merupakan modal bagi keberhasilan hidup anak saat ia dewasa."


Ramalan beberapa ahli tentang gambaran masa depan dunia yang menuntut munculnya jiwa wirausaha pada tiap individu tak dapat disangkal lagi. Persaingan global antar bangsa yang tak mengenal batas antar negara menuntut setiap orang untuk kreatif memunculkan ide-ide baru. Maka mempersiapkan anak agar mempunyai jiwa wirausaha, agaknya jadi satu hal yang penting dilakukan oleh orangtua dan lingkungannya.



Peran orangtua dan guru
Wirausaha merupakan suatu usaha yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan membutuhkan banyak kreativitas. Rasa tanggung jawab dan kreativitas dapat ditumbuhkan sedini mungkin sejak anak mulai berinteraksi dengan orang dewasa. Orangtua adalah pihak yang bertanggung jawab penuh dalam proses ini. Anak harus diajarkan untuk memotivasi diri untuk bekerja keras, diberi kesempatan untuk bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.

Selain itu, peran lingkungan, semisal guru-guru, juga berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak. Mereka bisa berperan dalam membuat anak agar bisa menjadi seorang enterpreneur. Untuk itu, guru harus kreatif mengajar dan membuat soal. “Berikan kesempatan untuk berpikir alternatif. Misalnya, jangan bertanya 5X5 berapa. Tapi, tanyalah berapa kali berapa saja sama dengan 25,” kata Zainun Mu’tadin, S.Psi, M.Psi, Dosen Psikologi UPI YAI.

Dengan kreativitas orangtua dan guru, anak dilatih memiliki beberapa alternatif jawaban dan solusi. Alternatif tersebut akan melatih anak mampu mengambil keputusan yang tepat dari berbagai pilihan yang ada.

Jiwa wirausaha juga memerlukan motivasi yang bagus, intelegensi yang cukup baik, kreatif, inovatif, dan selalu mencari sesuatu hal yang baru untuk bisa dikembangkan. Sayangnya, menurut Zainun, hal-hal tersebut di sekolah kurang mendapat perhatian. Kebanyakan sekolah masih terfokus pada pengembangan kecerdasan intelegensi saja. Sementara kreativitas masih kurang dikembangkan.
Padahal pengembangan kreativitas akan membuat anak mampu menciptakan hal-hal baru. Kreativitas inilah modal dasar untuk menjadi enterpreuner. Modal penting lainnya adalah sikap bertanggungjawab. Sisi positif lain dari pengembangan sikap ini adalah terbangunnya rasa tanggung jawab pada semua hal yang dilakukan. Menurut Zainun, bila banyak orang di Indonesia memiliki jiwa enterpreunership, maka jumlah koruptor juga akan sedikit. “Bila kelak anak tersebut dewasa dan mengambil kredit di bank, ia akan bertanggungjawab mengembalikan dan tidak akan kabur,” kata psikolog yang menamatkan studinya di UI ini.

Latihan bertahap
Menumbuhan sifat wirausaha pada diri anak memerlukan latihan bertahap. Latihan wirausaha ini bukanlah sesuatu yang rumit. Bentuknya bisa sederhana dan merupakan bagian dari keseharian anak. Misalnya, toilet training untuk melatih anak yang masih ngompol. Tujuan akhirnya sampai anak mampu membuang kotoran di tempatnya, membersihkan kotorannya, dan memakai kembali celananya. Latihan itu dilakukan secara bertahap dan mengajarkan anak untuk bertanggungjawab.

Latihan lain, misalnya melatih anak untuk dapat membereskan mainan selesai bermain dan meletakkan mainan di tempatnya. Hal ini juga merupakan latihan untuk bertanggungjawab dan awal pengajaran tentang kepemilikan. Ini mainan saya diletakkan di sini. Ini mainan kakak, kalau mau pinjam, harus ijin dulu. Sifat tersebut, menurut Zainun, adalah awal untuk menumbuhkan jiwa wirausaha pada anak.
Latihan selanjutnya adalah mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Terangkan pada anak, dari mana uang yang dipakai untuk membiayai rumah tangga. Jelaskan bahwa untuk mendapatkan uang tersebut, orangtua harus bekerja keras. Uang hanya boleh dipakai untuk kebutuhan yang benar-benar perlu. Dengan demikian anak akan menjauhi sikap konsumtif.

Dalam mengajarkan anak mengelola uang, latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan, namun juga menabung, sedekah dan mencari uang. Tentu saja cara ini memerlukan konsistensi orangtua terhadap aturan. Misalnya, saat mengajak anak berbelanja. Catat terlebih dahulu kebutuhan yang akan dibeli. Orangtua harus konsisten untuk tidak belanja di luar catatan belanja. Bila anak mengamuk meminta mainan atau barang kebutuhan lain di luar catatan, maka orangtua harus konsisten untuk membelikannya. Aturan itu harus sudah disepakati sejak awal.

Latihan seperti ini sudah dapat dilakukan sejak anak berusia dua tahun. “Jangan anggap anak tidak mengerti apa-apa dengan mengatakan ‘Ah, masih anak kecil’. Padahal sejak kecil pun anak sudah mampu berkomunikasi,” tutur ayah satu orang putra ini.

Bisnis kecil-kecilan
Setelah anak diajarkan mengelola uang, tahap selanjutnya si anak mulai dapat diajarkan berbisnis kecil-kecilan. Biasanya bisa dilakukan pada usia sekolah. Pada usia ini, anak biasanya sudah dapat diajarkan jual beli.

Pada tahap ini anak diajarkan untuk mengenal usaha untuk mendapatkan sesuatu, dengan kata lain bisnis kecil-kecilan. Misalnya, anak bisa diajarkan menjual barang hasil karyanya, saperti es mambo, kue, dan lain-lain. “Ini tidak disarankan untuk dilatihkan, tapi sebenarnya bisa,” ujar Zainun. Syaratnya, tahapan ini bisa dijalankan bila orangtua sudah mengajarkan cara mengelola uang terlebih dahulu. Sehingga anak sudah terbiasa untuk menabung dan mengatur uangnya dengan baik. Dengan demikian uang yang mereka dapat tak segera dihabiskan untuk hal-hal yang tak perlu.
Cara yang dipakai oleh David Owen, seorang penulis buku di Amerika Serikat, agaknya layak ditiru. Owen mengisahkan tentang bagaimana ia mampu mendorong anak-anaknya menjadi gemar menabung dan penuh perhitungan dalam membelanjakan uang. Ia membuat “Bank Ayah”, khusus untuk anak-anaknya. Prinsip yang dikembangkan dalam "Bank Ayah" adalah pemberian tanggungjawab dan kontrol keuangan secara penuh pada anak sebagai pengelola uang mereka sendiri. Uang anak adalah milik anak, bukan milik orang tua. Bahkan anak juga bebas mencari pendapatan di luar jatah uang saku yang telah mereka dapatkan.

Dalam hal ini "Bank Ayah" berperan dalam melakukan kontrol secara tidak langsung, yaitu dengan mengembangkan prinsip-prinsip perbankan seperti bonus yang dapat menarik minat akan untuk menambah saldo tabungan, juga saldo minimal, yang dapat membatasi jumlah pengambilan uang agar tidak terkuras habis. Dengan ini anak akan benar-benar bertanggungjawab dan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

"Bank Ayah" ala David Owen ini tidak cuma menjadi daya tarik anak untuk menabung. Lebih dari itu "Bank Ayah" dikelola sebagai sarana pembelajaran dari praktik ekonomi kepada anak dengan bahasa yang sederhana. Dengan sedikit improvisasi, Owen mengubah "Bank Ayah" ini menjadi media latihan berinvestasi pada anak-anaknya. Owen sendiri berhasil mendirikan sebuah perusahaan pialang saham yang bernama "Dad and Co”.

Jadi sejak dini jiwa wirausaha baik untuk ditanamkan. Inti dari kewirausahaan adalah bagaimana menanamkan cara untuk berusaha, memecahkan permasalahan dan bertanggung jawab penuh atas apa yang dia lakukan. Sangat positif, bukan?
(oleh Sarah Handayani/Bahan :Ami)

Read More......

Membangun Kepercayaan


Sebelum Nabi Muhammad saw dikukuhkan menjadi seorang Rasul beliau sudah sangat populer di tengah masyarakat kota Mekkah dengan gelar al-Amin yaitu orang yang sangat terpercaya (amanah/kredibel). Gelar ini baik sebelum maupun sesudahnya tidak pernah ada lagi.

Sungguh dahsyat pengaruh suatu kepercayaan dan luar biasa pentingnya untuk kesuksesan karir kehidupan di dunia maupun di akhirat, jah melampaui modal harta benda, kedudukan, jabatan, atau ilmu sekalipun. Ketika kepercayaan sudah sirna di hati orang lain, sulit sekali ntuk tumbuh, walaupun dengan berjuta janji atau membayar dengan harta sebanyak apapun, jikalau kepercayaan di hati orang sudah hilang maka perasaan yang muncul selalu mencurigai dan rasa tidak percaya diri akan selalu membayang dan membekas


Berikut ini sekelumit uraian yang insya Allah akan menumbuhkan dan memperkuat kepercayaan seseorang.

Read More......

Arti Penting Kecerdasan Emosi dalam Berbisnis


Ternyata kecerdasan intelektual (IQ) bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Faktor yang justru sangat menentukan sukses hidup seseorang adalah Kecerdasan Emosional (EQ). Daniel Goleman yang mempopulerkan kecerdasan emosional.
Menurut Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence, ada lima karakteristik dan kemampuan dalam kecerdasan emosional :


- Kesadaran Diri
Mengetahui yang dirasakan untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, serta memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan dan kepercayaan diri.
- Pengaturan Diri
Menangani emosi sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas dan penyampaian suatu maksud, bereaksi secara proporsional terhadap suatu situasi, dan mampu dengan cepat pulih dari tekanan emosi
- Motivasi Diri
Menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntut menuju sasaran, mengambil inisiatif, bertindak efektif, serta bertahan menghadapi kegagalan.
- Empati
Merasakan yang dirasakan orang lain, memahami presfektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya, dan menyelaraskan diri dengan berbagai orang.
- Keterampilan Sosial
Menangani emosi secara baik, membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi, memimpin, bermusyawarah, dan menyelesaikan perselisihan, serta bekerja sama


Referensi: dari berbagai sumber

Read More......

Bermimpilah dan Wujudkan!


Bisnis adalah usaha mulia. Disamping menguntungkan, kita bisa membuka lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan. Tapi semua itu harus dimulai, bukan hanya sekedar ide semata.


Pernahkah kita bercita-cita menjadi direktur di perusahaan kita sendiri? Lalu mengapa kita terjebak dalam rutinitas pegawai kantoran, kuliah atau rumah tangga tanpa sedikitpun terpikir akan membuka usaha yang menguntungkan. Padahal kesempatan anda untuk memulai bisnis terbuka lebar setiap saat.


Mulailah sekarang

Seringkali istilah pengusaha belum dianggap sebagai pekerjaan. Bahkan, masyarakat kita banyak yang lebih menghargai pegawai kantoran yang nampak bekerja dari pagi hingga petang. Tapi pengusaha, apalagi kecil, masih dipandang sebelah mata. Padahal lewat bisnislah, orang bisa memperoleh keuntungan berkali lipat dibandingkan pegawai kantoran. Dan itu bisa dimulai dari rumah.

Bisnis rumahan bila dikelola secara profesional akan menjadi besar. Banyak bisnis berhasil yang dimulai dari bisnis rumahan seperti pemilik Wardah, kosmetika suci dan halal, Nurhayati Subakat misalnya, awalnya harus menjajakan produk shamponya dari satu salon ke salon lain. Kini produknya tersebar di seluruh Indonesia dan ratusan orang bekerja padanya.

Peluang itu ada dimana-mana. Cobalah buka mata, telinga dan intuisi anda dengan baik. Anda akan menemukan banyak sekali ide usaha. Bila anda hobi memasak, merancang sepatu, mengumpulkan barang bekas, mengumpulkan komik, bisa jadi ide bisnis untuk anda. Asalkan kita kreatif dan membuat sesuatu yang disukai pasar maka peluang untuk berhasil lebih terbuka. Anda bisa mengikuti jejak Nila Sari yang sukses dalam bisnis membuat kue, atau pendisain sepatu ekslusif seperti Linda Chandra atau bisa juga ide kreatif anak muda yang dituangkan lewat tulisan seperti pada Kaos Dagadu Yogya.

Andapun bisa menciptakan peluang itu. Misalnya saja peluang untuk membuat tempat penitipan anak, atau bisnis barang bekas lewat internet. Menciptakan peluang yang sama sekali baru juga dicetuskan oleh Jeff Bezos yang berinovasi menjual buku lewat internet dengan amazon.com-nya yang akhirnya sukses luar biasa dan menjadikannya milyuner di usia muda.

Tak salah juga jika anda mengekor bisnis yang sudah dibuka oleh orang lain. Misalnya bisnis ayam goreng yang sudah menyebar di kota besar ternyata menimbulkan ide menjual ayam goreng ala Mc Donald yang harganya lebih terjangkau masyarakat. Atau juga bisnis busana muslimah yang mulai menjamur. Tentu kita harus lihat apa kebutuhan pasar terhadap busana muslimah. Kekosongan yang tidak tersedia, dapat kita isi.

Lalu, apa yang kita lakukan jika ide sudah tercetus? Lakukan saja. Maksudnya di sini bukan tanpa perhitungan. Hanya saja jika terlalu ketat menghitung-hitung resiko yang muncul kemudian adalah rasa ragu-ragu. Ide cemerlang kita bisa segera ditangkap orang lain.

Berawal dari mimpi
Bermimpilah besar dan terus bermimpi besar, kata pepatah. Karena semua yang kita nikmati sekarang berasal dari mimpi yang dianggap tidak mungkin. Dulu Sosrodjojo ditertawakan orang karena dinilai bermimpi menjual teh dalam kemasan botol. Atau juga Tirto Utomo yang ditertawakan karena idenya menjual air minum kemasan. Ide itu kini terwujud sebab siapa yang tak kenal The Botol Sosro dan Aqua. Kini merek itu telah jadi trendsetter dari produk teh dan minuman mineral sejenis.

Di Amerika ada Bill Gates yang meninggalkan bangku kuliah bisnisnya di Harvard, sebuah sekolah elit di Amerika, dan serius menekuni microsoftnya. Dia bermimpi kelak di seluruh dunia akan ada Komputer Pribadi (PC) di setiap rumah. Impian itu menjadi slogan yang dikenal luas dengan “Computer on every desk and in every home”. Mimpinya jadi kenyataan.

Jika kita telah berani bermimpi, sebenarnya mimpi itu bisa kita wujudkan dengan kerja keras dan kesungguhan. Jangan takut bermimpi, walaupun anda membuka usaha skala kecil saja di rumah.

Berani adalah modal
Jika anda sudah memiliki mimpi dan ide yang baik, kenapa tidak mulai sekarang? Beranikan diri untuk mencoba. Berani adalah modal seorang enterpreuner. Mencoba ide atau gagasan secara langsung adalah tantangan yang menyenangkan. Banyak ilmu didapat dibanding sekedar membaca teorinya saja.

Andaikan modal adalah alasan terbesar anda maka ketahuilah banyak pengusaha sukses yang memulai usaha dari nol. Ada yang berjualan batik titipan orang, keuntungannya dijadikan modal usaha seperti Dyah Suminar, pengusaha wanita asal Yogya. Ada pula Purdi Chandra, pemilik Bimbingan Belajar Primagama, yang memulai usaha hanya dengan 300 ribu hasil melego sepeda motornya. Lihat pula Abdullah Gymnastiar yang merintis divisi usaha pesantren Daarut Tauhid dengan menggelar dagangan yang modalnya berasal dari seorang janda. Jadi modal bukanlah permasalahan paling besar yang dihadapi oleh pebisnis pemula.

Berani gagal
Menurut Tyas Soekarsono, dosen sekaligus pengusaha, keseriusan dan kesungguhan dalam berbisnis juga menjadi faktor yang menentukan keberhasilan bisnis yang anda tekuni. Hal ini berlaku pula dengan bisnis yang dimulai dari rumah. “Kerja keras perlu tapi jangan sampai tidak efektif dan tidak efisien,” ujarnya mengingatkan. Work hard and work smart adalah motto para enterpreuner. Jangan malas dan merasa cepat puas atas hasil yang didapat.

Hal penting lainnya adalah daya inovasi yang tinggi terhadap layanan produk dan jasa. Karena itu seorang pebisnis harus pandai mengikuti perkembangan pasar dan melihat perilaku pesaing. Pebisnis harus menyadari bahwa produk yang ditawarkan banyak, tapi apa yang membuat si calon konsumen itu beralih menggunakan produk dan jasanya. Di sini pebisnis harus cerdik melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Safir Senduk juga menegaskan sikap tidak boleh cepat mengharapkan hasil bagi para pebisnis pemula. Kesabaran itu diperlukan untuk beradaptasi dengan usaha yang mulai dirintis. Kadang kegagalan itu perlu dirasakan oleh pebisnis karena lewat kegagalanlah pengusaha akan mencoba menghindari kesalahan yang sama.

Jika kita sudah berani mencoba maka kita harus berani gagal atau berani sukses. Intinya, seberapa keras kita berusaha itulah harga yang akan kita dapatkan. Tidak ada kamus gagal bagi yang berjiwa enterpreuner. Yang ada adalah seberapa cepat anda bangkit dari kegagalan itu. Bagaimana, siap berbisnis?


Referensi: dari berbagai sumber

Read More......